Halaman

Jumat, 11 Oktober 2013

Selingan Semusim




Judul : Selingan Semusim
Penulis : Alaika Abdullah
Penerbit : Smart Garden Publishing & Printing
ISBN : 978-602-17944-01
197 hlm

Setelah berbulan-bulan menanti buku ini jauh-jauh dari Bandung, akhirnya kemarin siang mendarat jugalah dia ke Papua, tepatnya di rumah saya. Saya sendiri bahkan sudah lupa, namun begitu melihat nama Mbak Alaika di sampul pengirimnya, langsung saya teringat pernah memenangkan kuis kecil-kecilan dari Mbak Alaika di FBnya. :)
Thanks Mba Al... :D


Nah, mari kita ke bukunya. 
Pertama kali menatap sampul buku ini, saya cukup terkesan. Bukan karena gambar sampulnya, namun sebab pesan yang tertulis di sampul buku. Buku yang tak di sampul plastik namun menggunakan kertas untuk melingkari buku sebagai salah satu bentuk sumbangsih mengurangi penggunaan sampah plastik. Kertas kecil itu sendiri bisa digunakan sebagai pembatas buku/ penanda halaman. Sayang sekali, karena seperti biasa, buku-buku saya tak luput dari serangan si kecil, maka kertas itupun hilang entah di mana rimbanya.

Dengan judul "Selingan Semusim", buku ini bercerita tentang seorang ibu rumah tangga sekaligus wanita karir bernama Novita yang baru saja selesai mengikuti sebuah pelatihan. Namun, seperti kita tahu, cinta bisa terjadi di mana saja. Novita kita yang manis ini tak luput dari serangan cinta. Dia merasa tak keruan setiap kali berhadapan dengan sang fasilitator bernama Fajar. Meski Fajar sendiri sudah menikah dan memiliki anak sepertinya, namun apalah artinya jika keduanya telah dimabuk asmara. Berawal dari kedekatan saat mendaki Gunung, dan seterusnya mereka terus berhubungan setiap kali ada kesempatan. Meski Novita sendiri sering kali merasa sisi baiknya ikut berbicara agar mengakhiri hubungan itu, namun ketika telah bertemu Fajar, peringatan-peringatan itu segera lenyap digantikan perasaan yang lain.

Meski dibumbui dengan beberapa adegan kipas (yang benar-benar bikin kipas-kipas... uhuk-uhuk), namun makna yang ingin disampaikan oleh penulis cukup dalam. Hal ini sempat membuat saya melirik kembali sampul buku, dan ternyata saya tidak menemukan label 'novel dewasa'. Jadi sebaiknya jauhkan buku ini dari jangkauan anak-anak dan remaja.
Mengangkat tema kesetiaan terhadap pasangan (perselingkuhan), suatu hal yang mungkin saja kadang kita temui dalam kehidupan kita. Bahkan mungkin hampir setiap hari kita berhadapan dengan hal tersebut lewat tayangan infotaiment, atau ketika kita secara tak sadar sedang menggosipkan seseorang. Namun penulis mencoba membawa kita ke sisi si pelaku, bagaimana perasaannya, dan seperti apa  pilihannya kemudian. Akan tetapi, dalam novel ini pertentangan antara sisi baik dan sisi jahat dalam diri Novita agaknya kurang dieksplor.

Sayang sekali, dari segi cerita meski sudah cukup bagus dan terinci di awal, namun menjelang akhir, alurnya terkesan melompat-lompat, dan seperti agak terburu-buru hingga di akhir cerita. Seperti ada beberapa bagian yang hilang. Belum lagi banyaknya typo yang membuat saya harus seringkali mengulangi membaca agar mengerti karena beberapa kesalahan teknis. Namun hal ini bisa dimaklumi karena buku ini merupakan cetakan pertama, dan diharapkan bisa dikurangi di cetakan berikutnya. Dan lagi itu tertutupi dengan bahasa ringan yang digunakan oleh penulis sehingga membuat kita tak perlu mengerutkan kening saat membaca.

Oh ya, satu yang cukup menarik dalam novel ini yakni dimasukkannya kisah tragedi tsunami Aceh sebagai salah satu latar cerita. Tentu saja kita tidak akan lupa kejadian mengerikan tersebut. Dan ini menjadi pelengkap novel ini untuk lebih mendramatisir ceritanya, membuat pembaca ikut merasa tercekam dan pilu.

Bagaimanapun, rasa cinta yang begitu dalam, telah berurat berakar dengan begitu kuat di dalam sanubarinya. Dan adalah tidak gampang mempraktekkan teori dan hipotesa yang telah dia siapkan. (hlm. 188)

Sehabis membaca buku ini, saya akhirnya menghela nafas lega. Melihat pada kehidupan nyata, seringkali memang perselingkuhan dijadikan 'selingan semusim' dengan alasan stt alias selingkuh tipis-tipis, namun bukankah lebih baik jika itu tak perlu terjadi. Karena kesetiaan adalah komitmen kita pada pasangan yang kita janjikan di hadapan Tuhan.

Terakhir, jika ingin lebih mengenal penulisnya, dapat berkunjung ke blog beliau di sini.
Oh ya mbak Al, saya penasaran dengan kelanjutan kisah Novita ini. Kalo sudah terbit, semoga bisa dapat gratis lagi qiqiqiq... Sekali lagi, makasih banyak mba Al. :))









1 komentar:

  1. Hai Mba Matris, maaf baru berkunjung ke halaman ini. Ini juga nemu dari rekomendasi di google ketika searching ttg foto Alaika Abdullah. Hehe.
    Bener Mba, masih banyak sekali kekurangan2 pada novel perdana saya ini, maklum Mba, ini tulisan pertama saya yang dibukukan, pada penerbitan yang juga pertama sekali saya dirikan. Jadi ini sungguh2 pembelajaran perdana bagi saya. Semoga edisi2 berikutnya akan menjadi lebih baik yaaa. Trims untuk masukan2nya, Mba.

    Insyaallah, semoga ada peluang lagi nanti utk dapatkan secara gratis kelanjutan crita dari Selingan Semusim ini ya. :)

    BalasHapus