Laman

Kamis, 23 Oktober 2014

Me Times Three



Me Times Three
(Aku, Dia, dan Dia)
Penulis : Alex Witchel
Alih Bahasa : Monica Dwi Chresnayani
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Jakarta, November 2003
440 hlm

Sandra Berlin benar-benar beruntung. Itu menurutku. Bagaimana tidak!  Dia gadis yang pintar, seru, berhasil menjadi kandidat untuk menduduki posisi Editor Seni dan Hiburan sebuah majalah wanita Jolie, mempunyai tunangan yang keren keturunan langsung penjahit bendera Amerika yang pertama, punya sahabat karib yang meskipun seorang gay namun dia sahabat yang sanagt baik baginya, dan bahkan menurutku dian juga cantik dan manis (meski dia tak menyebutkannya). Nah, apalagi yang kurang? Semua tampak sempurna bagi Sandra.
Tapi tentu saja selalu ada badai di setiap kehidupan. Badai hidup Sandra dimulai ketika seorang wanita pirang, Carla Jones menghampirinya dan menyatakan dia juga adalah tunangan Bucky, yang notabene  adalah tunangan Sandra sekarang dan mereka telah berpacaran sejak jaman sekolah dulu. Meski tak percaya, akhirnya Sandra memenuhi undangan Carla ke apartemennya, mereka saling sharing, dan ternyata selain mereka adalagi tunangan yang lain. Semua lengkap dengan bukti catatan waktu yang disusun secara kronologis oleh Carla.

Selasa, 21 Oktober 2014

Fat Tuesday

Fat Tuesday
(Menjelang Tengah Malam)
Penulis : Sandra Brown
Alih Bahasa : Rina Buntaran
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Jakarta, Januari 2000
576 hlm

Burke Basile, seorang polisi dari Divisi Narkotik dan Susila Kepolisian New Orleans (KNO) merasa kesal bukan kepalang ketika akhirnya juri pengadilan memutuskan bahwa Wayne Bardo, seorang penjahat yang ditangkapnya dinyatakan tidak bersalah dalam kasus kematian Kevin Stuart. Bebasnya Bardo tidak lepas dari campur tangan Pinkie Duvall si pengacara sekaligus sebenarnya adalah bos dari Bardo terutama dalam hal bisnis ilegalnya. Sayangnya Duvall sendiri tak pernah tersentuh oleh hukum saking pandainya dia dalam melakukan bisnis ilegalnya tersebut. 

Stuart sendiri terbunuh dalam peristiwa penggeberekan obat bius yang gagal. Stuart adalah rekan sekaligus sahabat dekat Basile. Merasa tertekan akibat peristiwa tersebut, belum lagi dipicu oleh keretakan rumah tangganya, Basile mencoba bunuh diri. Tapi sebelum menarik picu pistolnya, dia menyadari ada yang lebih patut menderita dibanding dirinya. Basile pun merencanakan pembalasan terhadap Duvall setelah sebelumnya meletakkan lencananya.

Memulai rencananya, Basile menghubungi Ruby Bouchereaux, pemilik sebuah rumah bordil. Dari Rubylah Basile akhirnya mengetahui kelemahan Duvall yakni tentang istrinya yang cantik, Remy Duvall. Remy adalah milik Duvall yang sangat berharga. Diperlakukan bak anggrek piaraannya yang disimpan dalam rumah kaca, Remypun tinggal dalam rumah Duvall yang indah dengan penjagaan ketat pengawal, bahkan kemanapun dia pergi  tak pernah lepas dari penjagaan sang pengawal.

Seperti novel suspense Sandra Brown pada umumnya, kisah ini juga diselipi dengan bumbu asmara, perihal ketertarikan Basile terhadap istri sang pengacara. Terutama ketika dia akhirnya berhasil menculik sang istri dan mengenal dia lebih jauh. Sementara itu sang pengacara tentu saja tak mau dikalahkan begitu saja.
Tidak ada yang bisa mengambil milik Pinkie Duvall begitu saja. Dan bajingan itu telah mengambil miliknya yang paling berharga. Jika ia menyentuh Remy... Jika ia berani menyentuhnya bahkan hanya dengan satu jari... Pinkie dengan nikmat membayangkan membunuh pria tak bernama itu dengan tangan kosong. (hlm. 257)
Petualangan Basile dalam menculik Remy dengan bantuan seorang pria muda yang homo cukup menegangkan. Sayangnya kisahnya terasa agak lambat dan sepertinya diakhiri dengan terburu-buru. Beberapa kejutan yang muncul di akhir cerita jadi terasa janggal. Mungkin dikarenakan mengejar klimaks cerita yang berakhir saat malam Fat Tuesday.

Man on Fire




Man on Fire
(Dibakar dendam)
Penulis : A. J. Quinnel
Alih Bahasa : B. Sendra Tanuwidjaja
Penerbit : PT Gramedia
Jakarta, 2004
496 hlm

Creasy, seorang mantan Legiun Asing alias veteran perang disewa utuk menjadi pengawal pribadi seorang gadis kecil. Hal ini  karena sang orangtua, Rika dan Ettiore khawatir dengan maraknya kasus penculikan anak di kalangan orang-orang kaya di Italy. Tapi alasan  sebenarnya lebih karena Rika tak ingin kalah gengsi  dari teman-teman sepergaulannya. Teman mereka sebagian besar sudah menggunakan jasa pengawal untuk menjaga putra-putri mereka, karena itu Rika tak ingin ketinggalan untuk memberikan pengamanan maksimal ke putri semata wayangnya, Pinta.

Kamis, 05 Juni 2014

Galila



Judul : Galila
Penulis : Jessica Huwae
Editor : Rosi L. Simamora
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Jakarta, Maret 2014
336 hlm

"Bagaimana bila kita memulai kembali - mengulang kembali semuanya secara wajar?"
Perempuan itu mengangguk ringan. Kabut kesedihan telah tersapu lenyap dari wajahnya.
"Namaku Edward Silitonga, kamu bisa memanggilku Eddie." Edide mengulurkan tangan. 
"Galila," sambutnya.
"Hanya Galila?"
"Tanpa nama belakang."

Ya,  perempuan itu bernama Galila, tanpa nama belakang atau yang lazim disebut marga. Tentu saja aneh bila seorang anak tak punya marga, apalagi yang notabene berasal dari Maluku seperti Galila. Tapi karena kepergian ayahnya yang menorehkan luka bagi dia dan ibunya, maka nama belakang itupun terhapus demi menghapus luka yang ditinggalkan. 
Pepatah mengatakan hidup bisa berubah dalam satu kedipan mata. Atau secepat membalikkan telapak tangan. Dan bahwa waktu adalah daya yang mengubah segalanya. Peluang, keberuntungan termasuk garis hidup seseorang.   (hlm. 35)

Meninggalkan masa lalu yang kelam, Galila merapat ke ibukota mencoba peruntungannya dengan mengikuti kontes menyanyi. Tak disangka dia ternyata menjadi juara dan akhirnya ikut menyelami kehidupan ibukota sebagai artis. Meski begitu dia tetap menutup rapat kisah masa lalunya itu dan bergerak menata hidupnya yang sudah tampak bersinar cemerlang di depan sana. 

Hingga kemudian pertemuannya dengan Eddie,  pria yang membuatnya jatuh cinta dan akhirnya membentuk keberaniannya untuk memperjuangkan kisah cintanya kali ini.

Diceritakan dengan alur maju mundur, dan dikemas dalam cerita kisah cinta beda suku menambah apik kisah dalam buku ini. Satu dengan suku Batak yang tentu saja disajikan beberapa hal khas Sumatera sana, sementara yang satunya adat Maluku dengan latar daerah pesisir pantai yang indah serta bau rempah-rempah seperti cengkeh yang khas. Ah, tentu saja saya agak asing dengan yang berlatar Batak, namun lain halnya kalau dengan yang berlatar Ambon. Meski bukanlah orang Ambon, namun membaca buku ini saya bisa menggambarkan tempat-tempat maupun latar yang diceritakan dengan jelas dalam pikiran saya. Saparua, Masohi, Pantai Natsepa, Pelabuhan Tulehu, ikan asar, sagu, aroma cengkeh bahkan logat ose dan beta serta hal-hal lainnya lekat dalam pikiran saya. Meski sepertinya hanya mengambil sedikit saja porsi dalam buku ini, seperti halnya kisah kembalinya Galila ke Ambon yang hanya diceritakan dalam dua bab terakhir. 

Oh ya, ketika sepenggal kisah tentang Greta, saya yang pelupa ini tiba-tiba merasa deja vu
"Ah, ini saya pernah baca, di mana ya?" batin saya.
Dan dengan berpikir keras, saya baru menyadari betapa bodohnya saya. Tentu saja, saya pernah membaca kisah tersebut di buku Jessica Huwae yang lain yakni di "Skenario remang- remang". Hehe... Rupanya novel ini adalah pengembangan dari salah satu cerita pendek dalam kumpulan cerita karya Jessica dalam buku tersebut. *toyor diri sendiri...

Baiklah, lupakan itu, intinya novel ini ingin menyampaikan bahwa setiap orang tentu saja punya rahasia masa lalu maupun kehidupan pribadi  yang tak perlu untuk diberitakan ke seluruh dunia, serta bagaimana setiap orang berhak untuk memperjuangkan cintanya. Oh ya, tak lupa pula saya juga salut untuk sang tokoh antagonis, ibunya Eddie yang keukeuh untuk mencarikan jodoh yang terbaik bagi anaknya sesuai dengan tuntutan adat dan tradisi mereka. Meski untuk bagian ini saya merasa agak kesinetronan-kesinetronan... (halaaah bahasa apa pula ini...?) Dan kemudian ada banyak pesan moral yang diselipkan, terutama dengan banyaknya penggalan-penggalan ayat Alkitab dalam novel ini. Dan terakhir tentang issue kerusuhan Ambon yang sempat di angkat. Ah, itu memang masa lalu yang kelam. Saya sendiri tak mampu membayangkan bagaimana hal seperti itu dulu bisa terjadi. Tapi memang hal itu benar adanya, saya sendiri kerap meringis miris saat mendengar ceritanya dari suami yang mengalami sendiri hal tersebut. Yah, mudah-mudahan kita bisa belajar lebih banyak lagi dari peristiwa tersebut agar kita tak lagi mudah terprovokasi oleh hal-hal yang remeh hingga menimbulkan bencana besar.

Oh ya, dan yang paling terkhir, saya lalu dengan penasaran bertanya : "Apa kabarnya Greta? Koh Kong? Dan bahkan Yunita?"
Penasaran.com
:)




Selasa, 03 Juni 2014

Keely



Judul Asli : Hero of Lesser Causes
Penulis : Julie Johnston
Alih Bahasa : Ade Reena
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Jakarta, September 2007
288 hlm

Berlatar belakang masa sesudah perang di kota kecil bernama Channing sebelah bawah lembah Ottawa, teenlit ini mengisahkan tentang Keely Connor, gadis kecil berusia 12 tahun bersama kakaknya Patrick yang berusia tiga belas setengah. Karena jarak usia yang tak begitu jauh, tentu saja Keely sangat akrab dengan kakaknya. Bermain perang-perangan bersama, menceburkan diri dalam kolam pengisap darah ataupun bermain tembak-tembakan, meski mereka sendiri sudah merasa terlalu besar untuk itu membuat Keely merasa mereka seperti kembar siam dengan pikiran yang terkadang sama.

Keely sendiri hanyalah remaja biasa, dia sangat suka kuda, dan terkadang membayangkan dirinya adalah penunggang kuda jantan putih perak yang melesat menembus kabut naik turun Lembah Ottawa. Hingga akhirnya sebuah kejadian buruk menimpa Patrick saat dia harus dinyatakan lumpuh karena polio, dimulailah peran Keely dalam rangka menjadi pahlawan untuk kakaknya itu. 

Minggu, 01 Juni 2014

Daughter of Fortune



Judul : Daughter of Fortune
           (Putri Keberuntungan)
Penulis  : Issabel Allende
Alih Bahasa : Eko Indriantanto
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Jakarta, Desember 2009
552 hlm


Pada 15 Maret 1832,di depan pintu keluarga Sommers ditemukan seorang bayi kecil yang berada dalam peti sabun terbungkus sweater laki-laki. Bayi mungil yang dengan segera merebut hati Miss Rose Sommers hingga akhirnya dia dipelihara dan diberi nama keluarga Sommers yakni Eliza Sommers.
Eliza boleh dikatakan beruntung dipelihara oleh keluarga bangsawan tersebut. Dia dirawat dan dipelihara layaknya gadis bangsawan, diajari bernyanyi, berdansa, bahkan bermain piano serta berbagai keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan gadis muda. Namun tetap pula Eliza akan rajin bermain di dapur bersama Mama Fresia, pelayan keluarga tersebut mempelajari berbagai resep masakan. Semua hal yang kelak tanpa disadarinya ternyata berguna bagi dirinya di kemudian hari.

Eliza, gadis cerdas namun kerap bertindak spontan memulai petualangannya di usia 16 tahun. Ketika itu dia bertekad menyusul kekasihnya yang terkena dampak demam emas ke California. Meninggalkan kehidupan yang nyaman di Chili, dia menyusup ke sebuah kapal dibantu sang koki kapal asal China, Tao Chi'en. Sungguh berat hal yang harus dialaminya, dalam keadaan hamil plus mabuk kapal dan harus meringkuk bersembunyi dalam palka kapal agar tak ketahuan bahkan dia harus kehilangan janinnya. Untunglah Tao selalu ada menjaganya, dan kemudian bahkan secara terpaksa terus menemaninya dalam pencariannya menemukan sang kekasih.

Mengarungi daerah barat yang sangat asing baginya, daerah liar yang bahkan belum mengenal peraturan, belum lagi dengan adanya penduduk asli orang Indian di mana bahkan sangat jarang ada perempuan kecuali perempuan-perempuan yang memang berniat untuk menjajakan dirinya bagi para pencari emas. Hal-hal tersebut tidaklah menyurutkan keinginannya untuk terus menemukan cintanya, bahkan ketika dia harus berjuang seorang diri dalam pencariannya setelah berpisah dari Tao.

Jumat, 28 Februari 2014

Rahasia Meede





Rahasia Meede
Misteri Harta Karun VOC
Penulis : E. S. ITO
Penerbit Hikmah (PT Mizan Publika)
Cetakan I, Agustus 2007
675 hlm



Perniagaan tanpa moralitas
Politik tanpa etika
Sains tanpa humanitas
Peribadatan tanpa pengorbanan
Kekayaan tanpa kerja keras
Pengetahuan tanpa karakter
Kesenangan tanpa nurani

Demikianlah 7 dosa sosial yang dikenalkan oleh Mahatma Gandhi. Lalu apa hubungannya dengan Rahasia Meede?
Meede adalah putri Erberveld yang menjalin hubungan dengan Kapten Clusse. Lewat Meede, sang Kapten berhasil mendapatkan nama-nama orang yang dekat dengan Erbeveld. Erbeveld sendiri diyakini membawa rahasia ayahnya Pieter Erbeveld yang bertanggungjawab terhadap monopoli emas Salido. Tumpukan emas inilah yang diyakini rahasianya dibawa lari oleh Meede.
“Ya. Kelak orang-orang berspekulasi bahwa rahasia harta VOC itu dibawa hilang oleh Meede. Het geheim van Meede atau Rahasia Meede, itulah awal perburuan harta karun yang aku lalukan.”  (hlm. 453)
Inilah cerita perburuan harta karun VOC yang terkubur entah di mana di suatu tempat. Perburuan yang dilakukan oleh berbagai pihak, baik dari Indonesia sendiri yakni oleh sebuah pihak yang disebut sebagai Anarki Nusantara dan juga oleh pihak asing.

Awalnya saya sendiri sempat bingung dengan banyaknya tokoh yang muncul di awal cerita. Dan tentu saja saya mesti bersabar untuk mengetahui bagaimana hubungan mereka, dengan terus membaca hingga di akhir cerita.
Dan ternyata, kemudian banyak kejutan-kejutan yang dihasilkan oleh cerita ini. Bahkan bagi saya sendiri, awalnya saya hanya tahu kalau VOC itu adalah serikat dagang dari Belanda sana. Titik.  Mengenai harta benda, utang Belanda pada negara kita dan sebagainya yang muncul dalam cerita ini, saya tidak tahu sama sekali. Atau mungkin saja sayalah yang tak memperhatikan dengan baik saat pelajaran sejarah dulu. Hehehe... Entahlah... Namun dengan membaca novel ini, sayapun ikut larut dalam sejarah bangsa. Banyak pengetahuan sejarah yang saya dapatkan, dan saya salut pada penulis untuk hal itu. Beliau benar-benar mampu menggali sejarah bangsa kita.

Kembali ke isi cerita.
Batu Noah Gultom adalah seorang wartawan koran Indonesiaraya. Dia baru 5 bulan bekerja di koran tersebut, namun sudah mendapat kepercayaan dari sang redaktur Parada Gultom. Batu ditugaskan untuk mengikuti berita tentang pembunuhan misterius orang-orang penting yang anehnya semuanya berlangsung di tempat-tempat yang berawalan huruf B.

Sementara itu dikisahkan pula tentang seorang gadis cantik asal Belanda, Cathleen Zwinckel. Dia berangkat ke Indonesia dalam rangka merampungkan penelitian untukkeperluan tesisnya mengenai sejarah ekonomi kolinial di negeri tersebut. Sejarah kolonial ekonomi, tentu saja akan berkaitan dengan VOC.

Dan di sisi lain, ada pula tiga orang peneliti Belanda yang tengah menggali di bawah gedung Museum Sejarah Jakarta

Kemudian ada pula cerita tentang seorang guru sejarah yang disegani murid-muridnya. Guru Uban namanya, mengajarkan tentang Jan Pieterszoon Coen, sang akuntan sejati.
"Membicarakan kekejian JP Coen artinya kita harus memahami VOC." (hlm. 83)
Nah, bagaimanakah hubungan antara kisah-kisah tersebut?
Itulah yang saya sebutkan di awal tadi, bahwa kita mesti bersabar untuk menemukan kaitan antara orang-orang tersebut. Kisah-kisah ini memang diramu untuk membuat kita penasaran agar terus membacanya. Apalagi dengan bumbu-bumbu sejarah yang cukup memikat, dan sepertinya memang cukup mendetail diceritakan, maka kisah ini menantang untuk dibaca.

Ah, dan bahkan sayangnya, hingga menutup buku ini, saya masih penasaran dengan Pak Guru Uban.





Catatan : 
Oh ya, saking penasarannya dengan Museum Sejarah Jakarta, kebetulan akhir Februari kemarin saya mendapat kesempatan mengunjungi kota Jakarta, dan mencoba mencari-cari waktu di antara padatnya kegiatan untuk menuju ke sana, sayang saya tak menemukan Museum yang dimaksud dalam cerita ini. Kemudian, karena masih penasaran, sayapun berlari ke Monas. *Ini kunjungan saya yang pertama. Maklumlah, orang udik dari Papua hehehe... dan malah saya menemukan  ini (seperti dalam foto)?
Hadeuuh.. sayapun bingung apa maksudnya? Tak sempat meminta penjelasan dari petugas. 



Kamis, 30 Januari 2014

Carrie *Posting Bareng Secret Santa 2013




Judul : Carrie
Penulis : Stephen King
Alih Bahasa : Gita Yuliani K.
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Oktober 2013
256 hlm

Buku ini adalah salah satu hadiah dari Secret Santa saya.  Salah satu even yang diadakan BBI di akhir tahun kemarin, di mana sesama anggota saling berbagi kado buku.
Selesai membaca buku ini, saya tidak tau harus menulis apa. Rasanya hmmmm... Agak susah juga dijelaskan.
Hehehe..
Baiklah.. 
Carrie White, gadis 17 tahun yang menjadi korban bullying teman-temanya. Sebenarnya dia adalah remaja biasa. Ia gadis gemuk pendek dengan jerawat pada leher, punggung dan bokongnya.
Tapi yang membedakannya dari teman-temannya ialah dia mempunyai kemampuan telekinesis.
Tentu saja, tidak ada dari mereka yang tahu bahwa Carrie White berkemampuan telekinesis.    (hlm. 10)
Tentu saja saya meng-google tentang telekinesis sambil membaca buku ini. Intinya adalah telekinesis merupakan kemampuan untuk menggerakkan sesuatu obyek tanpa harus menyentuhnya. 
Bagaimana dengan Carrie? Kenapa dia bisa memiliki kemampuan itu?
Jika dianalisa, sepertinya hidup Carrie tertekan oleh ulah ibunya, Margareth White yang terlalu fanatik. Hal itu membuatnya ingin memberontak, dan setiap kali emosinya memuncak, terjadilah hal-hal aneh berkaitan dengan pikirannya. Kejadian awal bermula ketika dia berusia 3 tahun, terjadi hujan batu ketika dia dikurung Mommanya dalam lemari setelah dianggap bersalah karena berbincang dengan tetangganya yang berpakaian minim dan sedang berjemur di halaman belakang. Tentu saja itu adalah dosa besar menurut Momma.

Belum lagi ketidaktahuannya tentang haid sehingga membuatnya mendapat olok-olokan dari teman-temannya semakin menanamkan rasa benci dalam hatinya. (Untuk bagian ini saya sendiri sempat bingung, memangnya di sekolah tidak diajarkan pelajaran Biologi ya?)
"Momma!" jerit Carrie,"Momma tolong dengarkan! Ini bukan salahku!"
"Tundukkan kepalamu," kata Momma."Mari kita berdoa."
"Momma seharusnya memberitahu aku!"
                                                                                            (hlm. 61)
Hingga akhirnya di bagian klimaks pada malam prom. Ah, tidak usahlah diceritakan. Rasakan sendiri kengeriannya. Apa benar-benar akan membuatmu bergidik?
Sayang sekali, seperti kebanyakan pembaca lain, saya juga mengeluhkan terjemahannya, membuat saya jadi kurang nyaman membacanya.
 
Oh ya, saya jadi teringat Mathilda waktu membaca buku ini. Tapi bedanya Mathilda  meski masih kecil, dia mau belajar mengendalikan kemampuannya itu.

******






Yuhuuu........ Akhirnya tiba juga saatnya membongkar identitas sang Santa Rahasia.


Ternyata setelah memperhatikan clue dari si SS, kata 'utara' dan 'k kecil', langsung saja pikiran saya melayang pada Halmahera. Yakin deh, Santaku adalah mba Putri Utama. Betul kan?.......

Makasih banyak ya Mba Put... :)


Senin, 27 Januari 2014

Firebelly



Judul : Firebelly
           Novel Perjalanan Menuju Inti Pemikiran
Penulis : J. C. Michaels
Penerbit : PT Serambi
Cetakan I, September 2010
323 hlm


"..... kadang kehidupan kita dibelokkan oleh sesuatu yang begitu sederhana dan tidak penting seperti seekor katak buntung ... "

Awal melihat buku ini, dari sampulnya saya sempat merasa geli begitu melihat gambar kataknya, mengira ini adalah bacaan yang ringan, mungkin saja sebuah dongeng tentang katak. Tapi begitu mendekat dan membaca kalimat di bawah judulnya seperti di atas, maka pikiran saya langsung berbelok. Oleh karena itu, akhirnya buku ini terus saja tertunda untuk dibaca. Hingga akhirnya ketika sedang banyak waktu libur di bulan ini, saya mencoba untuk melanjutkan membacanya. Beberapa bulan yang lalu saya memang hanya sempat mebaca pengantarnya. Di bagian depan, kita di beri tiga macam pengantar; pengantar anak-anak, pengantar remaja, dan pengantar dewasa. Tentu saja saya membaca ketiganya. :)

Kehidupan memiliki banyak tepi yang kasar: tepi yang membawa kita mendekat seperti tebing di atas ngarai yang menarik, tepi yang mendorong kita menjauhi tutup bergerigi dari kaleng logam yang terbuka. (hlm.35)
Selanjutnya, dimulailah kisah tentang Firebelly. Dia adalah seekor katak kecil dengan perut berwarna merah api. Namun sayang sekali, dia hanya memiliki 2 kaki. Buntung di depan, dan buntung di belakang. Bagian ketika dia menceritakan kondisinya ini sempat membuat saya terbahak. :D... Bukan.. bukan... bukan saya menertawai kondisinya itu. Tentu saja tak baik bila menertawakan kondisi cacat seseorang, ataupun meski itu hanyalah seekor katak. Tapi caranya bercerita sungguh lucu. Pada bagian ini akhirnya dia mampu membuat saya tidak ikut-ikutan sedih, meski saya tetap saja prihatin. Tapi itulah Firebelly.

Kamu pikir ini lucu? Bagus. Aku suka bercanda karena jika aku tidak menertawakan diri sendiri, aku menangis. (hlm. 41)
Tinggal di dalam wadah di sebuah toko hewan, Firebelly dan kawan-kawannya menanti saat-saat di mana orang-orang mendekati wadah begitu dekat dengan membuka dan menutup mulut mereka, dan kemudian bunyi tuk-tuk yang berarti mereka mengetuk-ngetuk dinding wadah tersebut mengakibatkan kerikil beterbangan mengenai para katak, dan bahkan kemudian saat-saat ketika mereka akhirnya di ciduk dengan sebuah jaring kemudian di bawa entah ke mana. Hal yang awalnya menakutkan bagi Firebelly, namun berkat pertemanannya dengan seekor katak tua membuat dia akhirnya mendapatkan keberaniannya untuk kemudian melompat ke dalam jaring. Meski itu berarti dia akan pergi ke sebuah dunia yang baru, yang tentu saja sangat asing baginya, namun dengan membawa mimpi serta rasa ingin tahu tentang dunia liar yang diketahuinya dari sang katak tua.

Kehidupan Firebelly akhirnya di mulai, dengan nama baru  MP alias si Missing Pieces. Ini adalah hari yang sarat petualangan mendebarkan, sukacita yang meluap-luap, dan penemuan luar biasa - dari ketakutan dan kesedihan berubah menjadi kegembiraan , tawa, dan limpahan keceriaan. (hlm. 109)

Membaca kisah Firebelly ini yang awalnya saya pikir merupakan bacaan berat ternyata sangat jauh dari perkiraan saya semula. Firebelly dengan caranya sendiri mampu membuka pikiran saya tentang bagaimana kita sering dihadapkan pada berbagai pilihan berat dalam hidup. Banyak pelajaran yang dapat kita petik dari dalamnya, dan bahkan banyak pula quote-qoute menarik yang bisa kita temukan.

Aku hanya mengambil pilihan, untuk meloncat pada sesuatu yang lebih besar daripada diriku sendiri, dan untuk sekali saja seumur hidupku, tidak ingin melihat ke belakang. (hlm. 306)



Submitted for : Baca Bareng BBI - Jan 2014 Thema Fabel









Sabtu, 18 Januari 2014

Dua Belas Pasang Mata





Judul asli : Nijushi No Hitomi
Penulis : Sakae Tsuboi
Diterjemahkan dari Bahasa jepang oleh Akira Miura
Alih Bahasa : Tanti Lesmana
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Jakarta, 2013
248 hlm

Kisah tentang seorang Ibu Guru dan kedua belas muridnya sejak awal mereka masuk sekolah sampai menjadi dewasa.

Yap, benar. Sesuai dengan kalimat di sampul buku, ini adalah kisah tentang seorang Ibu Guru muda bersama dengan kedua belas muridnya. Miss Oishi namanya, dia masihlah sangat muda ketika pertama kalinya ditugaskan untuk mengajar di sebuah desa nelayan yang berada di Laut Seto. Sebuah desa kecil dengan penduduk kurang lebih 100 KK. Letaknya di ujung sebuah tanjung. Karena lumayan jauh, dia harus naik sepeda dari rumahnya ke sekolah. Saat itu bukanlah hal lazim bagi seorang wanita untuk mengendarai sepeda. Apalagi Miss Oishi ke sekolah dengan mengenakan pakaian modern yang mereka sebut pakaian Barat, membuat anak-anak bahkan masyarakat di situ terheran-heran dengan kemunculan Miss Oishi saat pertama kali. Mereka menyangka Ibu Guru yang baru akan datang dengan berjalan kaki sambil terseok-seok.
Sepeda itu dibelinya lewat seorang teman baik, anak perempuan penjual sepeda, dengan cicilan 5 bulan. Berhubung tidak memiliki pakaian yang pantas, dia mencelup kimono ibunya yang terbuat dari bahan kepar dengan warna hitam, dan menjahitnya sendiri menjadi setelan, walaupun jahitannya tidak begitu bagus. (hlm. 28)

Oh, seandainya saja masyarakat tahu hal tersebut, tentu mereka tak akan mengatainya "sok Barat".
Kisah tentang Miss Oishi ini sendiri di mulai pada 4 April 1928. Tentu saja itu adalah masa-masa perang. Hidup pastilah sangat sulit ketika itu. 
Miss Oishi ditugaskan untuk mengajar siswa kelas 1. Mengajar 12 orang murid kelas satu dengan aneka karakter tentunya merupakan tantangan berat baginya. Namun  dia berhasil menguatkan diri dan menjalankan tugasnya itu dengan penuh tanggung jawab.
Murid-muridnya terdiri dari : Kotsuru Kabe, Masuno Kagawa (Mahchan), Kotoe Katagiri, Matsue (Matchan) Kawamoto, Fujiko Kinoshita, Misako (Miisan) Nishiguchi, Sanae Yamaishi, Nita Aizawa, Isokichi (Sonki) Okada, Tadashi (Tonko) Morioka, Takeichi Takeshita, dan Kichiji (Kitchin) Tokuda.
Mengapa saya menuliskan nama-nama mereka? Soalnya bagi saya sendiri begitu sulit menghafal nama-nama Jepang yang kedengaran begitu ribet di telinga saya.  x_x

sumber

 Dan karena seperti dituliskan di atas, bahwa ini adalah kisah mereka dari awal sekolah hingga dewasa, jadilah saya melirik catatan nama-nama tersebut setiap kali nama seorang murid disebut, dan menandainya sesuai dengan kisah dan karakternya.
Hubungan antara Miss Oishi dengan murid-muridnya lama-kelamaan menjadi sangat erat. Terbukti saat Miss Oishi mengalami kecelakaan, sehingga dia tidak dapat pergi mengajar, anak-anak kelas 1 itu bersama-sama berjalan kaki ke kampung Miss Oishi di desa pohon pinus untuk mengunjunginya, padahal tak seorangpun dari mereka yang pernah ke sana sebelumnya, dan jaraknyapun lumayan jauh yakni sekitar 8 km.
Meski kemudian Miss Oishi tak lagi mengajar mereka setelah itu, karena beliau pindah ke sekolah di desa utama, namun 4 tahun kemudian mereka bertemu lagi karena anak-anak desa nelayan tersebut harus bersekolah di desa utama ketika naik kelas 5 SD.
Hal yang sama pernah saya alami sendiri. Dulu saya bersekolah di SD di sebuah pinggiran kota yang merupakan cabang dari sebuah SD di kota. Dan ketika kami naik ke kelas 6 SD, kami harus pindah ke SD utama di kota. Jadi saya bisa membayangkan bagaimana perasaan anak-anak itu ketika mereka pindah. Tentu sama dengan perasaan kami dulu, antara senang, tapi juga takut-takut dan merasa minder dengan anak kota.
Beragam kisah unik tentang masing-masing murid, kerasnya perjuangan hidup yang harus mereka alami di jaman perang itu, dan bukan hanya mereka, Miss Oishi sendiri juga harus berjuang dalam hidupnya.

"Kalau kau tidak mau menjadi satu-satunya anak yang pergi dengan memakai kimono, jangan berangkat. Kau mesti pilih, mau pergi atau mau blus.Bagaimana?"   (Ibu Sanae, hlm.142)
"Tahun depan, adik saya Toshie akan masuk ke sekolah utama. Kalau saya masuk sekolah lanjutan di sini, siapa yang akan memasak makan malam di rumah? Lain kali saya yang mesti memasak."  (Kotoe, hlm. 153)

Miss Oishi sendiri sangat tak menyukai perang. Meski tak dituliskan dalam buku ini bagaimana tentang perang itu sendiri. Namun akhirnya ketika Jepang kalah di tahun 1945, akhirnya dia bisa merasa lega. Dia tidak sedih meskipun kalah, karena itu berarti perang telah berakhir, tak ada lagi tentara yang harus mati di medan perang. Orang-orang yang masih hidup akan pulang.
Dan ketika akhirnya, ibu guru itu kembali lagi mengajar di desa tanjung, kali ini mengajar anak dari anak muridnya yang terdahulu, perasaan sentimentil dan kenangan sebagai seorang guru terhadap murid-muridnya yang terdahulu tetap muncul membuat dia dijuluki Ibu Guru Cengeng. Tentunya hal ini menunjukkan pada kita tentang bagaimana pengabdian seorang guru yang berjuang demi murid-muridnya. Memang, guru yang penuh pengabdian seperti ini layak untuk kita sebut Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.

Berkenaan dengan novel Laskar Pelangi, saya memang membaca Laskar Pelangi duluan dari pada buku ini. Namun sebelum Laskar Pelangi, saya malah membaca duluan kisah tentang Totto chan. Jadi saya malahan mengira dulu, jangan-jangan Bang Andrea mendapat ide dari Totto chan itu. Ah, tak usahlah memusingkan hal itu. Yang pasti, pesan moral dari buku ini sangat jelas.
"Ibu Guru baik sekali kepada saya selama bertahun-tahun ini. Sekarang saya mesti berpamitan." (Isokichi, hlm. 169)


Jumat, 10 Januari 2014

Christmas Miracles



Judul Buku : Christmas Miracles
                    Kumpulan kisah nyata tentang keajaiban Natal penuh inspirasi
Penulis        : Brad Steiger
                    Sherry Hansen Steiger
Alih Bahasa : Rosida W. Simatupang
Penerbit      : PT Elex Media Komputindo, Kelompok Gramedia
Cetakan Pertama, 2013

Kisah Natal diawali oleh berbagai kejadian ajaib yang tentu saja membuat kita kagum, dan menyadari kebesaran kuasa Tuhan dalam melakukan mujizat yang besar itu. Seperti tertera dalam kitab Injil, di mana Maria yang masih perawan mengandung Putra Kudus Yesus Kristus, keajaiban kelahiranNya di kandang domba yang disaksikan oleh para gembala, bahkan juga perjalanan tiga orang majus yang bijak dari Timur yang dituntun oleh bintang ketika mereka pergi untuk menyembah Yesus. Dan kisah keajaiban Natal itu tetap ada dan bahkan terus saja terjadi hingga sekarang ini.

Dan dalam buku ini dihadirkan bermacam-macam peristiwa ajaib yang terjadi baik bagi sebuah pribadi maupun keluarga yang tentu saja menarik untuk disimak. Diawali dengan kisah seorang pastor yang menyesali nasibnya ditempatkan di daerah pedalaman sehingga merasa ditinggalkan Tuhan, namun seorang wanita yang muncul tiba-tiba dalam ibadah Natal serta menyanyikan sebuah lagu yang sangat indah membuatnya seketika tersadar, sehingga dia mampu melanjutkan pengabdiannya dengan penuh kegembiraan selama 15 tahun berikutnya.