Laman

Sabtu, 24 September 2016

Dengan Hati








Judul     : Dengan Hati
Penulis : Syafrina Siregar
Penerbit      : PT Gramedia Pustaka Utama
Jakarta, Mei 2008
280 hlm


Mengambil latar belakang isu HIV/AIDS, Dengan Hati bercerita tentang persahabatan Mila dan Santi melewati berbagai masalah seputar isu ini. Ada Dini, ODHA yang sedang hamil dan menerima perlakuan diskriminasi. Ada Ian, project manager yang mirip Dermott Mulroney. Dan ada Charlie, si rambut kecoklatan yang selalu menjaga Ian.
Ada cinta dalam persahabatn, cinta antara anak dan orangtua, juga cinta yang terlarang. Ada pertemuan, ada kehilangan. Ada tawa dan air mata.
Satu per satu konflik yang muncul selalu mebawa tokoh-tokohnya pada satu kesimpulan: Hanya dengan hati, semua bisa dijalani dengan lebih baik lagi.
Tapi masih bisakah kembali pada hati dan membiarkan ayah tercinta berisiko terpapar HIV karena mengoperasi seorang ODHA? MAsihkah bisa jujur pada hati dan membiarkan orang terkasih menikah dengan seorang ODHA? Masih sanggupkah berpijak pada hati saat diri sendiri pun berisiko terinfeksi virus HIV?
Saat teori bersinggungan dengan kenyataan, saat idealism mempertanyakan realita, masihkan Mila, Santi, Dini, juga Ian tetap berpijak dengan HATI?

Jumat, 23 September 2016

Riana : I'm the other woman






Judul     : Riana : I’m the other woman
Penulis : Fitri Mardhi
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Jakarta, 2015
176 hlm



NIEN :
Nien tidak membalas pagutan bibir Sam, pun tidak menolaknya. Nien hanya diam. Membayangkan Lena. Membayangkan pipinya yang merona setiap membicarakan Sam.  Membayangkan matanya mencuri-curi pandang kea rah Sam.

NA :
“Brain is the sexiest part of a man’s body. And you have a brain, Sir, one of the best among all.” Na menyebutkan itu sambil mengerling manja pada Lukman. Hanya jam terbang Lukman yang tinggi dalam menghadapi perempuan yang membantunya tidak tersedak mendengarpernyataan seintimidatif itu.

RIE :
Jujur, sebenarnya aku lebih menikmati pembicaraan kami via Yahoo! Messenger. Di dunia maya aku bebas mendeskripsikan mimic dan wajah Adit sesukanya. Dan kalau suatu saat aku mati gaya, pembicaraan bisa ditunda dengan alasan ketiduran, ada telepon masuk, atau sinyal yang sedang tidak bersahabat.

RIA :
Yang terbayang dalam pelupuk mata Ria hanyalah Bagas. Bagas yang tidak ganteng. BAgas yang tidak gaul. Bagas yang gendut. Bagas yang aneh. Bagas yang nerd. Bagas yang menorehkan nyaman dan tidak mau pergi dari pikiran Ria.

AYA :
Aku lalu menatap laki-laki dihadapanku dengan saksama. Mencari-cari keindahan di wajahnya,  menganalisis seberapa tinggi tingkat keenakannya untuk dilihat, dan berharap ada hal yang cukup bagus untuk menjelaskan kegemaranku pada lelaki ini.
Tidak ada.

Namaku Riana.
Aku mengenal mereka semua.

Kamis, 22 September 2016

Marriage of Convenience





Judul : Marriage of Convenience
Penulis : Shanti
Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Jakarta, 2015
306 hlm

-Khrisna-
Aku menatap lembaran kertas di tanganku, berusaha keras memahami isinya. Oh… bukan, aku paham betul apa isinya.Lebih tepatnya, sih, berusaha keras untuk menerima isinya. Kenyataan pahit. Bahwa aku Khrisna Satya Sangkala, tidak akan pernah merasakan indahnya menjadi seorang ayah.
-Dita-
Aku menatap rintik hujan yang semakin menderas. Tidak berniat sedikitpun untuk beranjak dari bangku taman yang kududuki sejak tiga jam yang lalu. Berharap butiran hujan bisa membantuku menghapus rasa sakit itu. Di sini, di dadaku. Dan di sini …. Aku meraba perutku perlahan. Yah, Nak…! Sekarang hanya tinggal kita berdua. Kenyataan pahit. Bahwa aku, Anindita Sahaja, akan menjadi single mother.