Laman

Kamis, 28 Juni 2012

#14 Forgiven, yang tak terlupakan

forgiven
yang tak terlupakan
Pengarang : Morra Quatro
Penerbit : Gagas Media
Cetakan I, 2010
266 halaman


Buku yang indah...
Mengisahkan tentang persahabatan dan kisah cinta dari sebuah SMU di Yogyakarta  hingga ke Amerika sana..
Karla dan gengnya.
Karla, sang  ketua kelas, sekaligus tokoh utamanya sebagai "aku".
Will, si jago fisika.
Alfan, pacar Karla
Laut
Wahyu
dan Robby si anak kaya.
Persahabatan mereka terjalin karena seringnya mereka pergi dan pulang sekolah bersama-sama. Kebetulan rumah mereka berdekatan.
Will dikisahkan begitu dekat dengan Karla, di balik sifat cueknya, dia sebenarnya sangat perhatian. Will rela mengantar Karla pulang dengan menggunakan mobil Pepsi (pacar Will) karena Karla tembus saat haid. Karena jago fisika, dia ikut lomba Olimpiade Fisika di Brussel. Yupp, saya senang tema ini di angkat.. Saya sendiri tak begitu jago fisika meski cita-cita saya jadi seorang ahli fisika, sayang sekali saya tidak masuk jurusan fisika waktu kuliah. Namun pernah saya ikut turut ramai waktu SMU dulu Bpk Yohanes Surya sang penggagas tim Olimpiade Fisika itu datang ke kota kecil kami untuk mencari bibit-bibit cerdas untuk mengikuti Olimpiade Fisika. (dan tepuk tangan saudara-saudara... saya tidak termasuk di dalamnya.. hehehe...,, kok jadi melenceng dari buku).
Intinya adalah saya suka dengan tema Fisika dalam novel ini.
Namun saya agak bingung, (koreksi jika saya salah) soalnya setahu saya yang mau ikut Olimpiade Fisika itu pasti di bina dulu sama Pak Yohanes Surya itu selama beberapa bulan barulah diikutkan lomba, namun kalau di novel ini mengatakan kalau si Will langsung main berangkat saja ke Brussel.
Okelah, ini kan cuma fiksi,, mari kita tinggalkan itu.
Kembali ke Karla, karena orangtuanya berpisah, juga karena kondisi politik yang kurang nyaman di Indonesia membuat dia melanjutkan kuliah ke luar negeri.
Si Will sendiri juga kuliah di Amerika meski ternyata tak betul2 kuliah dalam kenyataannya. Dia hanya selalu ikut berbagai perkuliahan, ikut membaca di perpustakaan namun tak pernah terdaftar sebagai mahasiswa. Dia bergabung dengan kakaknya Nicholas dan juga para ahli2 fisika lainnya dalam sebuah proyek.
Sayangnya di akhir cerita diceritakan kalau Will dipenjara karena di anggap sebagai orang yang bertanggung jawab meledakkan sebuah gedung, apalagi saat itu sedang gembar-gembornya peledakan WTC.  Prolognya sendiri di awali dengan pertemuan Karla dan Will dalam penjara.
Dia dihadapkan pada hukuman mati. Bagaimana akhirnya..? Bacalah sendiri
Forgiven, sebuah kisah tentang lelaki pemuja Champagne Supernova dan perempuan yang selalu menanti bintang itu.
Ah, nice book, eh, buku yang sangat bagus malah.... terima kasih untuk Leny dari pinjambuku.org yang sudah meminjamkan buku ini. Oh ya, saya suka sekali covernya.

Jumat, 22 Juni 2012

#13 Surat dari Jauh

Judul asli : West from home

Buku ini adalah seri terakhir dalam seri Rumah Kecil.
Buku ini merupakan kumpulan surat-surat Laura kepada Almanzo yang menceritakan tentang pengalamannya saat mengunjungi Rose anak mereka di San Fransisco tahun 1915. Rose saat itu bekerja sebagai wartawati koran The Bulletin.
Surat-surat ini seperti dalam kata pengantarnya disebutkan bahwa ditemukan campur aduk di antara resep-resep masakan tua, guntingan-guntingan koran dan lain-lain. Ditujukan kepada Tuan A.J. Wilder, Mansfield, Missouri. Almanzo tidak dapat berangkat bersama Laura karena dia harus menjaga tanah pertaniannya. Jadilah Laura berangkat seorang diri dengan menaiki kereta api.
Keberangkatan Laura ini selain untuk mengunjungi Rose, juga untuk ikut menyaksikan sebuah Pameran besar yakni Pameran Internasional Panama - Pasifik yang di buka di San Fransisco. Ini adalah even di mana Laura pertama kalinya bisa berhubungan dengan dunia internasional. Semua hal yang dialaminya diceritakannya kepada Almanzo dalam bentuk surat karena dia ingin menjadi mata bagi Almanzo seperti dulu saat Pa Ingalls menugaskannya menjadi mata bagi kakaknya Mary yang buta.

#12 Empat Tahun Pertama


Judul asli : The first four years
Pengarang : Laura Ingalls Wilder
Penerbit : PT BPK Gunung Mulia, cetakan ke-7 2006
113 halaman


Di cahaya bintang-bintang
di saat malam datang
burung malam nyanyi cinta
tuk mawar pujaannya;
di hening bening malam
angin berhembus pelan
mari kita berdua pergi
ke alam bagai mimpi
ke tempat air berbisik
lembut di tepi tasik
di cahaya bintang-bintang
bahagia kita jelang

Naskah tulisan Laura ini sudah buram dan di tulis dengan pensil, ditemukan di antara dokumen-dokumen peninggalan Laura pada tahun 40-an. Tidak selesai, belum ada perbaikan sama sekali. Mungkin ini berkaitan erat dengan kematian suaminya Almanzo sehingga membuat dia sangat sedih dan keehilangan.
Buku ini mencakup tentang empat tahun pertama dalam perkawinan mereka di mana mereka menjadi sebuah keluarga petani.

Tahun I.
Di padang rumput Dakota, hari kamis tanggal 25 Agustus 1885 menjadi hari yang penuh bahagia bagi Laura dan Almanzo. Pasangan ini menikah tepat pukul 10 pagi di hadapan Pendeta Brown, dan Laura mengenakan gaun wol khasmir hitam. Lucu juga ya, mengingat zaman sekarang gaun pengantin pasti didominasi oleh warna putih.
Mereka tinggal di sebuah rumah kecil yang indah dan ceria. Karena Almanzo adalah petani, maka setelah menikah mereka pun menjadi keluarga petani. Pada waktu itu Laura dan Almanzo membuat kesepakatan bahwa mereka akan mencoba dulu selama 3 tahun apakah mereka akan benar-benar berhasil jika bekerja sebagai petani. Seandainya gagal, maka mereka akan mencoba mencari pekerjaan lain.
Laura memulai hari-harinya sebagai istri seorang petani, dan untuk pertama kalinya dia memasak untuk banyak orang pada saat Almanzo sedang mengerjakan panenan di bantu orang lain. Laura begitu gugupnya senhingga ia lupa memberi gula pada donat buatannya.
Banyak hal baru harus dilakukan Laura seorang diri. Misalnya waktu mereka memotong babi, merupakan pengalaman pertama Laura untuk membuat sosis, keju dan lain-lainnya seorang diri. Biasanya dia hanya membantu Ma.
Pernah pula Laura mengusir orang Indian yang datang ke rumah mereka saat dia sedang seorang diri.
Di tahun pertama ini pula, Laura pun hamil.
Mereka juga menghadapi hujan batu es, sampai-sampai mereka pun menyebut sebuah pepatah kuno yang berkata : Orang kaya mempunyai es di musim panas, dan orang miskin memperolehnya di musim dingin.

Tahun II.
Akibat hujan es itu panenan mereka rusak, sehingga hanya jerami yang menjadi satu-satunya hasil pertanian mereka. Merekapun pindah dari rumah kecil di tanah popohonan ke rumah di tanah pertanian. Karena kesulitan keuangan, Almanzo menggadaikan tanah mereka seharga 800 dollar. Uang itu cukup untuk membeli batu bara, membayar pajak tanah pertanian, dan membayar bunga berbagai surat hutang dan juga untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka.
Pada tanggal             Laura akhirnya melahirkan seorang anak perempuan yang cantik dan di beri nama Rose. Sayang sekali, mereka harus mengeluarkan uang lebih bayak lagi untuk membayar dokter.
Sahabat mereka keluarga Boast begitu berminat untuk mengambil anak mereka ketika Laura dan Almanzo mengunjungi mereka, yang mengakibatkan Laura begitu takut dan cepat-cepat mendekap anaknya lalu mengajak Manzo pulang.

Tahun III
Suatu hari Laura menderita radang difteri, Manly akhirnya tertular juga, sampai-sampai Ma Ingalls datang mengambil Rose untuk merawat Rose. Royal, saudara Almanzo datang merewat mereka berdua. Mereka kembali menghabiskan banyak uang untuk membayar dokter, dan akhirnya tanah pertanian pun di jual seharga 200 dollar sehingga mereka pindah kembali ke rumah kecil di tanah pepohonan. Almanzo melanggar perintah dokter untuk tidak bekerja berat dulu sehabis sakit, akibatnya dia menderita kelumpuhan sementara.
Suatu hari seorang keponakan Laura datang dan menawari mereka untuk membeli biri-biri. Merekapun akhirnya menginvestasikan gaji hasil mengajar Laura dulu untuk membeli 100 ekor biri-biri. Peter membantu menggembalakannya.
Musim panas datang dan mengakibatkan angin panas bertiup dengan kencang. Butir-butir gandum merekapun menyusut dan menjadi kering. Gagal lagilah panenan mereka.

Tahun Penangguhan
Seperti perjanjian mereka dulu bahwa mereka akan mencoba selama 3 tahun dulu, sekarang mereka memasuki tahun ke empat. Manzo meminta pada Laura agar akhir "masa percobaan" itu ditangguhkan ddan di tambah satu tahun lagi.
Laura kembali hamil.  Banyak hal-hal buruk terjadi, seperti suatu hari angin kencang bertiup mengakibatkan kebakaran dan terpaksa almanzo menabur bibit lagi. Laura melahirkan anak laki-laki, namun anak itu meninggal. Dan yang terparah rumah mereka terbakar dan hanya menyisakan sedikit sekali dari harta mereka.
Ada sebuah piring
Dari reruntuhan rumah kecil itu, mereka harus memulai lagi dari nol.
Namun mereka tetap setia dan berpegang pada pepatah kuno itu :
si kaya memperoleh es di musim panas
si miskin di musim dingin.

Australia memang kaya
Tambangnya penuh emas merah
Tapi tanahmu juga kaya
Kalau kau mau bekerja


# 11 Tahun - Tahun Bahagia

Judul asli : These Happy Golden Years
Pengarang : Laura Ingalls Wilder
Penerbit : BPK Gunung Mulia Cetakan ke-8 Tahun 2006
306 halaman

Buku ini pertama kali diterbitkan tahun 1943, dan mengisahkan hubungan Laura dan Almanzo mencakup periode tahun 1882 - 1885.

Laura mulai meninggalkan rumah untuk pergi mengajar di daerah tempat Pak Brewster tinggal, 19 km jauhnya dari kota. Laura tinggal di rumah Pak Brewster dan harus berhadapan dengan Bu Brewster yang tidak begitu ramah.
Laura begitu gugup dan merasa agak takut menghadapi pengalaman pertamanya untuk mengajar. Di tengah dinginnya embusan salju, dia akhirnya memantapkan dirinya melangkahkan kaki ke sekolah. Muridnya hanya 5 orang, bahkan ada yang lebih tua dari dirinya. Ruby, Tommy, Ruth, Charles, dan Clarence, itulah murid2 pertama Laura. Akhirnya tidak terasa satu minggu berlalu. Sebuah kejutan untuk Laura bahwa ternyata Almanzo menjemputnya untuk pulang ke rumah. Dan begitu seterusnya, Almanzo menjemputnya di hari Jumat, kemudian mengantarkannya kembali ke keluarga Brewster pada hari Minggu sore dengan menaiki giring-giring kereta luncur. 
Banyak pengalaman diperoleh Laura saat mengajar di sekolah. Menghadapi murid yang lebih tua darinya tentu cukup sulit. Kadang-kadang Clarence dengan sengaja mengganggunya, namun dalam menghadapinya Laura mengikuti nasehat dari Ma. Ma sendiri dulu adalah seorang guru, oleh karenanya dia mengharapkan salah seorang anaknya menjadi guru, dan karena Mary telah menjadi buta, tugas itu dilimpahkan kepada Laura. Meski Laura tak begitu senang namun dia harus tetap menghadapinya. Untunglah di tengah dinginnya cuaca musim dingin itu, Almanzo yang sedang pdkt terhadap Laura tetap setia mengantar dan menjemputnya. Masa 2 bulan mengajar akhirnya berlalu. Laura menerima gajinya namun dia menyerahkannya kepada Pa agar Pa menyimpannya untuk  biaya sekolah Mary.  Berakhirnya masa mengajar membuat Laura agak khawatir apa dia masih bisa menaiki kereta luncur milik Almanzo.
Tetapi rupanya setiap akhir minggu Almanzo tetap mengundangnya untuk berkereta bersama.
Namun Nellie Oleson muncul lagi menjengkelkan Laura dengan genitnya selalu meminta untuk ikut menaiki kereta luncur Almanzo. Untunglah kemunculan Nellie ini berakhir di buku ini karena dia beserta keluarganya kembali ke New York.
Suatu hari Mary akhirnya pulang liburan ke rumah. Mereka senang sekali bisa bertemu Mary lagi. Mary menceritakan semua yang dialaminya di sekolah Iowa tersebut. Mereka sekeluarga berbahagia karena mengetahui ternyata Mary senang berada di sekolah khusus itu dan rupanya dia banyak menemukan teman di sana.
Keuangan keluarga mereka mulai membaik, Pa menjual sapi dan membelikan Ma sebuah mesin jahit. 
Laura ditawari lagi untuk mengajar, dan dia kembali mengajar di sebuah sekolah tak begitu jauh dari rumah mereka.
 Gaji dari hasil mengajar kembali diserahkan Laura kepada Pa untuk membelikan sebuah piano untuk Mary agar dia kelak dapat memainkannya saat pulang lagi nanti. Sayang sekali liburan berikutnya Mary tidak bisa pulang karena dia pergi berlibur ke rumah temannya.

Hubungan Laura dan Almanzo terus berlanjut, dan suatu sore di atas kereta luncur, Almanzo melamar Laura serta memberikan sebuah cincin.
Selama masa pertunangan tersebut, Laura tetap sibuk mengajar, dan Ma sibuk menjahit gaun untuk Laura. Almanzo pun juga sibuk membangun rumah kecil di sebuah tanah pepohonan. Hingga suatu hari Almanzo mengajak Laura untuk segera menikah demi menghindari keluarga Almanzo yang berencana datang dan mengadakan pesta pernikahan besar. Akhirnya di suatu pagi tanggal 25 Agustus 1885 merekapun menikah di hadapan Pendeta Brown.


Selasa, 05 Juni 2012

# 10 Kota Kecil di Padang Rumput

Judul asli : Little Town on the Prairie
Pengarang : Laura Ingalls Wilder
Penerbit : PT BPK Gunung Mulia
Cetakan ke - 8 tahun 2006
297 halaman

Musim dingin yang panjang telah lewat. Kini sudah memasuki musim semi, dan Laura telah berusia 15 tahun. Pa menawarkan pada Laura untuk bekerja di kota. Mungkin dengan bekerja Laura dapat membantu perekonomian keluarga mereka.
Pada suatu hari yang cerah Laura & Mary berjalan-jalan di padang rumput, sementara Pa sedang menanam jagung. Mereka berbincang dari hati ke hati layaknya saudara. Dulu, Mary selalu kelihatan lebih besar. Namun kini karena usia mereka semakin besar, mereka berdua kelihatannya sama saja. Laura sempat mencetuskan pada Mary bahwa dulu dia begitu kesal karena Mary selalu tampil sebagai anak yang paling baik, bahkan Laura bilang kadang2 dia ingin menampar Mary.. hehehe.. Untunglah dengan tulusnya, Laura mengatakan bahwa sekarang dia tidak pernah berfikir melakukan itu lagi. Meski Mary dengan rendah hati mengakui bahwa kadang-kadang dia merasa sombong karena selalu berusaha jadi anak yang baik namun Laura tidak mempercayainya karena dia tahu Mary benar-benar seorang anak yang baik.
" Sesungguhnya kita semua ini berhati jahat, dan cenderung untuk berbuat dosa. Sepasti asap mengepul ke atas."  (hal. 12)
kata Mary..
Semua orang tahu bahwa Tuhan sangat baik namun bagi Laura, agaknya hanya Mary-lah yang paling yakin tentang hal itu.

Sambil bekerja di ladang, Pa juga melanjutkan pembangunan rumah mereka, dari sebuah pondok mereka membuatnya menjadi benar-benar seperti sebuah rumah yang layak. Laura membantu Pa menegakkan kayu-kayu, sementara Carrie & Grace juga Ma menonton sambil membantu memungutkan paku-paku yang jatuh. Hingga akhirnya rumah mereka benar-benar selesai dan mereka kembali mendandani rumah itu.
Oh ya, Pa memiliki lagu untuk menanam di ladang yang dengan mudah dihafalkan Grace, ketika dia bertanya pada Pa mengapa harus menanam 4 biji tiap lubang.
Satu untuk burung hitam
Satu untuk  gagak
Dua  butir tinggal
untuk tumbuh membesar

Sayang sekali karena tikus tanah, Pa harus menanam ulang lagi. Sehingga Ma berfikir seandainya mereka punya seekor kucing. Dan suatu kali saat Pa pulang dari kota, dia membawa seekor anak kucing yang di beri nama Kitty.
Musim semi itu benar-benar membahagiakan.

Di kota sendiri, pembangunan semakin pesat. Pendatang bermunculan membangun rumah-rumah untuk tempat tinggal mereka.  Maka dimulailah hari-hari ketika Laura bekerja di kota. Setiap pagi dia ke kota membantu Ny. White mertua Pak Clancy untuk menjahit. Laura bekerja selama 6 minggu dan dia mendapat upah 9 dollar. Dari tempatnya bekerja dia dapat menyaksikan berbagai kejadian di luar tempat dia menjahit itu.

Pada hari peringatan kemerdekaan Amerika 4 Juli, Pa mengajak Laura dan Carrie ke kota menyaksikan perayaan tersebut. Sungguh meriah... dengan bunyi petasan, minum limun bersama dari dalam sebuah tong, juga menyaksikan perlombaan kereta. Di saat itu Laura begitu terpesona dengan kereta bugi milik Amanzo Wilder. Pa mengatakan bahwa kuda Almanzo yang tangguh itu Prince dan Lady adalah kuda yang sangat kuat. Prince-lah yang di ajak Almanzo membantu membawa gerobak berisi gandum saat musim dingin lalu.
Pa juga menagatakan bahwa kemungkinan saudara perempuan Almanzo akan menjadi guru mereka, sehingga Laura berfikir, dia akan belajar keras supaya guru itu nanti menyukainya dan mengajaknya menaiki kereta bugi itu suatu kali. Tak pernah dibayangkannya bahwa kelak, si pemilik kereta bugi itu sendiri yang akan mengajaknya nanti berjalan-jalan dengan kereta bugi.
Di pertanian mereka selalu saja ada masalah.. Burung2 hitam menyerang jagung sehingga Pa terpaksa menembak mereka dan Ma memasaknya jadi pastel burung hitam. Selalu ada keuntungan di tengah kerugian.

Tiba saatnya Mary meninggalkan mereka untuk pergi bersekolah ke sekolah khusus orang buta. Pa dan Ma mengantarnya, sementara Laura dan kedua adiknya di tinggal di rumah. Mereka membersihkan rumah, mencuci seprei, dan menjemur kasur. Sayang sekali hujan turun membuat mereka susah..
Untunglah Pa & Ma segera pulang..

Kadang-kadang mereka menjadi sedih melihat kamar yang kosong tanpa Mary, namun Laura sadar Mary sedang belajar di Perguruan Tinggi di Iowa, dan itu bagus baginya.

Musim dingin kembali menjelang. Pa mengatakan bahwa sekali lagi mereka harus pindah ke kota karena mereka belum siap menghadapi musim dingin ini. Laura & Carrie kembali bersekolah, di ajar oleh Nona Wilder. Sayang sekali Nona Wilder tidak sebaik yang mereka kira. Dia jahat terhadap Carrie dan malahan Nellie Oleson musuh Laura dari Sungai Plum dulu selalu mencari muka pada Nona Wilder. Karena berbagai masalah yang ditimbulkannya itu, dia pun di ganti oleh guru lain. Nellie Oleson masih tetap sombong, dia juga tinggal di tanah pertanian.. sehingga Laura berfikir sekarang Nellie yang menjadi gadis desa, sedangkan dia adalah gadis kota karena dia tinggal di kota.
Selama di kota mereka menghadiri malam kesenian, juga kadang-kadang pertemuan2.. Sungguh menyenangkan kehidupan di kota kecil itu. Dan akhirnya cita-cita Laura untuk menaiki kereta bugi Almanzo pun tercapai ketika suatu hari Almanzo sendiri yang mengajaknya naik kereta itu. Juga almanzo memberinya sebuah kartu nama miliknya dan menjelaskan arti namanya bagi Laura.
Wahhh... sepertinya Almanzo juga mulai naksir sama Laura... suitt..suittt...

Mengakhiri buku ini,  dikisahkan Laura berhasil lulus ujian Guru, padahal umurnya masih kurang 2 bulan. Dia akan mengajar di sekolah di tempat Pak Brewster.Wahh,, saya ikut bersorak untuk Laura..

Oh ya, Buku ini pertama kali di terbitkan tahun 1941. Kisah ini terjadi sekitar musim semi 1881 sampai 24 Desember 1882. Mary sendiri terdaftar di sekolah orang buta di Vinton , Iowa pada 23 November 1881.
Karakter Nellie Oleson sendiri yang kembali muncul ternyata adalah fiksi belaka. Laura tidak pernah lagi bertemu Nellie sejak pergi dari Sungai Plum. Karakter Nellie dimunculkan karena berdasarkan kisah nyata hidup Laura bahwa dia memiliki saingan di sekolah yang bernama Genevieve Masters.

 kota DeSmet, Dakota 


gambaran Laura & Almanzo menaiki kereta bugi yang di tarik oleh si kuda gagah Prince & Lady








Senin, 04 Juni 2012

# 9 Musim Dingin yang Panjang

 Judul asli : The Long Winter
Pengarang : Laura Ingalls Wilder
Penerbit   : Libri Cetakan ke-1 2011
426 halaman

Laura berumur hampir 14 tahun. Dia meminta pada Pa supaya diperbolehkan untuk membantu membuat jerami. Pa baru saja membeli mesin penyabit sehingga tak punya uang lagi untuk membayar seorang pekerja upahan. Sebenarnya Ma tak senang melihat wanita bekerja di ladang, tapi apa boleh buat terpaksa mereka menyetujui usul Laura itu. Mary & Carrie pun menawarrkan untuk membantu pekerjaan Laura di rumah.
Suatu pagi di bulan September, embun beku mulai turun, sehingga Pa mulai bekerja dengan lebih giat memotong rumput sebelum musim dingin tiba. Namun tiba2 salah satu gigi pisau penyabitnya patah sehingga terpaksa harus membeli yang baru ke kota. Karena Pa harus melanjutkan pekerjaannya, Laura disuruh untuk ke kota membelinya ditemani Carrie adiknya. Ini pertama kalinya Laura dan carrie pergi sendirian ke kota. Mereka melaksanakan tugasnya dengan cepat, dan saat dalam perjalanan pulang, kembali Laura melihat Almanzo untuk kedua kalinya.
Musim gugur kemudian tiba sebelum waktunya, bahkan badai salju muncul di bulan Oktober.
Suatu sore, di toko milik Harthorn di kota datanglah Orang Indian memberi penringatan kepada masyarakat di situ bahwa akan datang musim salju dan angin besar selama 7 bulan. Dia adalah seorang Indian yang sudah sangat tua. Indian itu berkata bahwa tiap 7 musim dingin akan datang musim dingin yang paling berat. Dan setiap tiga kali musim dingin berat, jadi 3 x 7 musim dingin, akan tiba musim dingin yang luar biasa beratnya. Jadi dia memperingatkan orang kulit putih bahwa ini adalah musim dingin ke 21 jadi akan ada badai salju selama 7 bulan. Mendengar hal itu mereka mulai berencana untuk pindah ke kota. Karena Pa memiliki bangunan di kota, maka segeralah mereka sekeluarga pindah ke kota.
Laura dan Carrie kembali bersekolah, namun di suatu siang badai salju yang cukup besar membuat sekolah dibubarkan sementara.

Badai salju pun mulai muncul.. Di sisi lain dikisahkan juga tentang Wilder bersaudara, Almanzo dan kakaknya Royal tentang bagaimana persiapan mereka menghadapi musim dingin ini.
Suatu hari Pa pergi ke Volga dan dia pulang bersama Pak Edwards (orang yang bertemu Sinterklas danmembawakan Laura & Mary hadiah dulu).. Orang ini selalu berkesan di hati Laura sehingga begitu sering muncul dalam buku Laura. Oh ya, dia sungguh baik hati dan  meninggalkan 20 dollar lagi untuk Mary.
Badai salju semakin menghebat hingga suatu hari kereta api bahkan tidak datang untuk mengantarkan kebutuhan kota tersebut. natal pun tiba, namun kereta api tak juga datang. Bahan makanan dan bahan bakar semakin menipis. Bahkan suatu hari Ma menggiling gandum yang terakhir untuk membuat roti.
Untunglah ada Almanzo Wilder & Cap Garland yang mempertaruhkan nyawanya untuk pergi membeli gandum di sebuah pertanian di dalam badai salju yang hebat itu, dan syukurlah mereka berhasil pulang membawa gandum untuk kota yang kelaparan itu..
Musim dingin berlanjut terus hingga di bulan Mei barulah kereta api datang membawakan mereka tong Natal yang seharusnya tiba sebelum Desember. Jadilah mereka menikmati hidangan Natal di bulan Mei.

Apa gunanya kita kecewa
Berjuanglah untuk cita-cita
Esok matahari 'kan bersinar
Walau hari ini pudar..

----------------------------------------------------------

Novel ini diterbitkan pertama kali tahun 1940. Kisah ini terjadi sekitar tahun 1880 - 1881.
Inilah gambaran kereta api yang terjebak salju hingga tak mampu datang ke kota De Smet...



Jumat, 01 Juni 2012

# 8 Di Pantai Danau Perak

Judul asli : By the Shores of Silver Lake
Pengarang : Laura Ingalls Wilder
Penerbit Libri, Cetakan ke-1 2011
366 halaman

Keluarga Laura baru saja terkena musibah. Ma, Mary, Carrie, bahkan si bayi Grace terkena jengkering (scarlet fever).
Hanya Pa dan Laura yang masih sehat. Yang paling menyedihkan ialah karena penyakit ini maka mata Mary menjadi buta. Tapi dia tetap menjadi Mary yang tabah. Uang mereka habis untuk membayar dokter.
Hingga suatu pagi Bibi Docia datang menawarkan pekerjaan untuk Pa di Daerah Barat untuk mengurus administrasi para pekerja kereta api. Pa pun tidak melewatkan kesempatan ini. Bersama Bibi Docia, Pa berangkat duluan meninggalkan keluarganya yang kelak akan menyusulnya setelah Mary sembuh benar.
Di sini dikisahkan pula Jack, si anjing gembala yang setia, usianya semakin tua, hingga suatu hari dia meninggal. Laura sangat sedih, mengingat Jack sudah menemani keluarganya begitu lama. Saat itu usia Laura hampir 13 tahun. Dia sudah mulai menjadi dewasa, apalagi mengingat tanggung jawabnya mengurus keluarganya karena Pa tidak ada, Mary yang sakit, dan adik-adiknya yang masih kecil.
Di bulan September yang cerah, mereka pun menyusul Pa dengan naik kereta api. Pengalaman pertama bagi Laura, dan sangat menyenangkan. Dia sebisa mungkin menceritakan semua kejadian yang terjadi di kereta api kepada Mary, karena dia sudah berjanji akan menjadi mata bagi Mary.
Dan kemudian tibalah mereka di perkampungan pekerja kereta api. Laura mulai lagi dengan petualangan-petualangannya, bermain dengan kedua sepupunya Lena dan Jean, menaiki kuda poni, hingga akhirnya mereka harus berangkat lagi ke Danau Perak.
Dinamai Danau Perak mungkin karena ketika malam masih membayang di Barat Laut, danau Perak telah gemerlapan bagaikan kertas perak di antara padang rumput yang berumput tinggi.
Di teempai ini mereka bertemu dengan seorang Indian yang berteman dengan Pa bernama Big Jerry. Pernah Big Jerry ini di tuduh menjadi pencuri kuda, padahal dia adalah Indian yang baik hati. Pernah pula dia menolong Pa ketika Hari Gajian, saat para pekerja hendak menjarah barang-barang di toko namun Big Jerry berhasil membawa mereka semua entah ke mana sehingga Pa bisa keluar dari dalam toko dengan selamat.

Hari-hari di Pantai Danau Perak sungguh menyenangkan. Hanya suatu hal yang membuat Laura agak bingung adalah ketika Ma mengatakan bahwa salah seorang anaknya harus menjadi guru, padahal Laura sangat tidak ingin menjadi guru. Dulu dipikirnya Mary-lah yang akan menjadi guru, Namun dengan keadaan Mary sekarang ini maka tentu saja tanggung jawab menjadi guru jatuh kepada Laura.
Suatu hari pekerjaan rel kereta api sudah selesai dan satu persatu para pekerja mulai meninggalkan pemukiman. Laura sekeluarga akhinya pindah juga ke sebuah rumah milik juru ukur, karena di sana lebih hangat dan nyaman untuk menghadapi musim dingin.
Pa juga mulai mencari-cari lahan untuk didaftarkan sebagai miliknya seperti yang selalu dicita-citakannya.

Hari Natal tiba, dan sekali lagi Mary & Laura mengingat Pak Edwards dulu yang menempuh jarak 60 km untuk membawakan mereka hadiah Natal. Sekarang mereka tidak pernah lagi mendengar kabarnya. Juga mereka ingat ketika Pa terjebak badai salju dan hampir tidak bisa pulang di malam Natal, padahal dia hanya berjarak 90 m dari rumah. Kali ini mereka merayakannya dengan keluarga Boast.

Selamat hari Natal semua
Terdengar di mana-mana
Di lonceng, di pohon
Gema Natal terasa.
Mari semua gembira
Nyanyikan syukur
Lihat surya kebenaran
sinari bumi!

Hari-hari musim dingin selanjutnya semakin membahagiakan. Pendeta Alden yang kebetulan melewati daerah itu berkunjung ke rumah mereka. Dan dari Pendeta Alden mereka di beri tahu bahwa ada sekolah khusus untuk orang buta sehingga mereka ingin sekali mengirim Mary ke sana. 
Musim dingin mulai berakhir dan pendatang baru mulai berdatangan. Ma pun memasak untuk mereka yang singgah di rumah mereka, namun karena terus-menerus terjadi, terpaksa Ma sedikit berbisnis dengan meminta sewa untuk biaya menginap dan makan. Dengan itu mereka tetap bisa punya uang untuk membeli bahan makanan.
Pa berhasil mendaftarkan sebidang tanah dibantu oleh Pak Edwards yang kebetulan bertemu dengan Pa, dan mereka pun bersiap untuk pindah ke tempat tersebut.
Saat mereka menuju ke tempat baru itulah, pertama kalinya Laura melihat Almanzo bersama kedua kudanya yang sangat gagah, dan sangat dikagumi oleh Laura.
Kini mereka kembali memiliki sebuah pondok kecil. Tempat yang nyaman untuk kembali memulai kehidupan baru..

Rumah sendiri,
sederhana, tetapi
indah dalam hati


------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Buku ini aslinya pertama kali dipublikasikan pada tahun 1939. Tempat Laura dan keluarganya menetap inilah yang kelak di sebut De Smet, Dakota Selatan.


Mary Ingalls
Melissa Sue Anderson pemeran Mary versi film
Berikut ini sedikit penjelasan untuk penyakit jengkering yang membuat Mary buta.
Penyakit jengkering itu disebabkan oleh suatu mikroba dengan nama Streptococcus pyogenes. Mikroba ini akan mengeluarkan semacam racun / toksin yang dapat menyebabkan rash yang berwarna merah terang. Jengkering dalam istilah medis lebih dikenal dengan scarlet fever.

Streptococcus pyogenes melepaskan sejumlah protein, termasuk beberapa faktor virulensi, kepada inangnya:
Streptolisin O dan S
adalah toksin yang merupakan dasar sifat beta-hemolisis organisme ini. Streptolisin O ialah racun sel yang berpotensi memengaruhi banyak tipe sel termasuk neutrofil, platelet, dan organella subsel. Menyebabkan respon imun dan penemuan antibodinya; antistreptolisin O (ASO) bisa digunakan secara klinis untuk menegaskan infeksi yang baru saja. Streptolisin O bersifat meracuni jantung (kardiotoksik).
Eksotoksin Streptococcus pyogenes A dan C
Keduanya adalah superantigen yang disekresi oleh sejumlah strain Streptococcus pyogenes. Eksotoksin pyogenes inilah yang bertanggung jawab untuk ruam penyakit jengkering dan sejumlah gejala sindrom syok toksik streptococcus.
Ciri2 penyakit ini antara lain :
1. Lidah akan berwarna merah terang menyerupai buah strawberry
2. Akan timbul demam
3. Sakit tenggorokan



# 7 Di Tepi Sungai Plum


Judul Asli : On the banks of Plum Creek
Pengarang : Laura Ingalls Wilder
Penerbit : Libri Cetakan ke - 1 2011
326 halaman

Petualangan Laura berlanjut..
Setelah berhari-hari melintasi Kansas, Missouri, Iowa, dan menempuh perjalanan jauh masuk ke Minnesota, perjalanan keluarga Ingalls dengan gerobak ditemani Jack, anjing yang setia,, akhirnya mereka pun berhenti.
Pa menukarkan kuda mereka Pet & Patty dengan tanah milik Pak Hanson. Selain itu Bunny sang anak keledai juga ditukarkan dengan tanaman dan sapi jantan. Lumayanlah untuk memulai kehidupan baru sebagai petani di tanah yang baru.
Mulanya Laura merasa sangat sedih, namun Pa memberi penjelasan bahwa perjalanan ke Barat lebih baik untuk si kuda daripada digunakan untuk membajak ladang.
Mereka kini memiliki rumah yang anehnya berada di dalam tanah. Ilustrasinya tampak seperti pada sampul buku di atas, di mana Laura & Mary dapat bermain asyik di atas rumah. Mereka mulai sibuk mendandani rumah, pun Laura kembali lagi asyik bermain di padang rumput maupun di lubuk yang dalam. Bertemu dengan binatang baru seperti musang, ketam batu dan pengisap darah di sungai serta sapi baru mereka yang bernama Reet namun kemudian berganti nama jadi Spot. Karena rumah mereka yang berada di dalam tanah ini sehingga pernah seekor sapi terperosok kakinya ke dalam rumah. Keasyikan lainnya ialah ketika Laura dan Mary bermain perosotan di atas tumpukan jerami yang di tumpuk Pa dengan susah payah.. 
Dan ketika Natal tiba mereka memiliki kuda sebagai hadiah Natal. Hanya saja mereka agak bingung dengan kata cuaca belalang yang disebutkan oleh orang-orang yang lebih dulu menetap di situ.
Di tepi sungai terdapat banyak rumpun pohon plum yang di petik oleh Laura dan Mary setiap hari.

Akhirnya Pa mulai membangun rumah baru dibantu oleh pak Nelson. Sungguh senang memiliki tetangga seperti itu yang selalu saling tolong- menolong. Dan tiba saatnya pula bagi Mary dan Laura untuk pergi ke sekolah. Meskipun Laura sebenarnya sangat tidak ingin ke sekolah, namun akhirnya dia bersama kakanya tetap pergi. Sayang sekali mereka tidak punya baju yang cukup bagus untuk ke sekolah dan rok mereka terlalu pendek sehingga anak-anak di sekolah mengejek mereka. Di sinilah laura bertemu dengan Nellie Oleson, gadis kota yang cantik namun sayang sekali dia jahat. Suatu kali Nellie mengadakan pesta dan mengundang Laur ke rumahnya, sayang sekali dia tidak mau sama sekali ketika laura ingin menyentuh bonekanya. Sungguh pelit... ih...
Ma pun mengatakan bahwa mereka juga boleh mengadakan pesta di desa dan boleh mengundang teman2nya. Laura melakukan aksi balas dendamnya pada Nellie dengan membiarkan Nellie di tempeli oleh pengisap darah alias lintah..

Dan suatu hari cuaca belalang yang mereka khawatirkan itupun terjadi. Belalang begitu banyak muncul dan menghabiskan tanaman mereka. Cuaca sangat panas, sehingga terpaksa Pa berangkat ke daerah Timur untuk mencari pekerjaan.
Saat-saat ini adalah saat paling menyedihkan. Untunglah pa pulang sebelum Natal dan mereka dapat merayakannya di Gereja bersama-sama.
Pa masih kembali lagi ke Timur, dan kehidupan masih berlanjut. Cuaca masih tidak menentu.. 
Musim dingin yang panjang membayangi, dan Laura menghitung kepergian Pa dengan memberi tanda di batu tulis.
Pa pun pulang, namun sekali lagi Pa pergi ke kota sebelum badai salju turun. Ketika Pa kembali, dia rupanya terhadang badai salju sehingga selama 3 hari 3 malam dia terkurung dalam salju. Untunglah Pa bisa bertahan dengan kue tiram dan gula-gula natal yang sebenarnya dibawakannya untuk anak-anaknya..
Dan malam Natal pun tiba. Mereka gembira sekali pa ada bersama-sama mereka.. Dan dengarlah lagu dari alunan biola  Pa :

"Malam sunyi dan sepi,
Bulan bersinar pucat pasi
Menerangi bukit-bukit dan lembah..."


Dalam buku ini Laura digambarkan ketika berumur 7 hingga 9 tahun. Sebenarnya saat itu termasuk dalam masa kelahiran saudara laki-laki Laura yakni Charles yang kemudian meninggal (1875-1876), namun tidak diceritakan dalam buku ini. Mungkin karena ini adalah masa-masa yang sangat sulit sehingga Laura memilih untuk tidak menceritakannya. Dalam buku ini juga tidak disebutkan nama kotanya, namun tempat mereka ini adalah sekitar 1,5 km dari Walnut Grove di sepanjang tepi Sungai Plum.

Tempat Laura bersama keluarganya ini telah dijadikan museum dan dapat dikunjungi..

Pohon plum, hmmm kayaknya enak ya...

daerah inilah yang ditengarai sebagai di tepi sungai plum

gambaran si Nellie Oleson


# 6 Anak Tani


Pengarang : Laura Ingalls Wilder
Penerbit : Libri



Wih... pas mau bikin review-nya, baru nyadar kalo buku ini lagi di pinjam sama teman, entah sudah berapa bulan yang lalu dan belum juga kembali.. Hiks..hiks...

Biarlah, sy akan menceritakan saja seingat saya..

Yang jelas buku ini menceritakan tentang masa kecil Almanzo Wilder ketika berusia 9 tahun jadi kira-kira sekitar tahun 1866, pria inilah yang kelak akan menjadi suami Laura.  Buku ini pertama kali diterbitkan tahun 1933, jadi terbit sebelum buku Rumah Kecil di padang Rumput.


 Almanzo Wilder lahir 13 Februari 1857, berarti dia lebih tua 10 tahun dari Laura. Tidak seperti keluarga Ingalls yang terus-menerus bertualang, keluarga Almanzo tinggal di sebuah pertanian dan mengelola pertanian tersebut di Malone, New York. Saudara-saudaranya adalah Laura Ann (1844-1899), Royal Gould (1847-1925), Eliza Jane (1850-1930), Alice M. (1953-1892), dan Perley Hari (1869-1934). Almanzo anak kelima dalam keluarga Wilder. Yang sering muncul di buku2 Laura kemudian adalah Royal dan Eliza. Eliza Jane kelak akan menjadi guru Laura.

Rumah pertanian Alamnzo Wilder di Malone yang sudah di pugar dan di jadikan museum.













































































































































































































































































Almanzo beserta saudara-saudaranya bekerja keras setiap hari, kadang-kadang mereka mencukur biri-biri, mengangkut kayu, menggebuk gandum, bahkan melatih anak sapi.
Yang saya ingat adalah ketika mereka membuat es krim dari balok-balok es. Hmmm,, sepertinya enak.. slurrrpp.
Keluarga Wilder cukup makmur, namun karena musim kekeringan yang melanda, akhirnya keluarga mereka meninggalkan Malone dan pindah ke Minnesota pada tahun 1875.

Kelak, almanzo dan kakaknya Royal pergi lebih jauh lagi ke Barat ke De Smet, Dakota di mana dia akan bertemu Laura.

 Almanzo Wilder (1857-1949)


Dean Butler, pemeran Almanzo dalam film Little House


Oh ya, saya sempat menemukan bahwa buku ini ada kelanjutannya. Di karang oleh Heather Williams berjudul Farmer Boy Goes West, baru diterbitkan Februari kemarin. Sudah ada di list Goodreads, dan pastinya ini menjadi Wishlist saya....