Laman

Jumat, 01 Juni 2012

# 7 Di Tepi Sungai Plum


Judul Asli : On the banks of Plum Creek
Pengarang : Laura Ingalls Wilder
Penerbit : Libri Cetakan ke - 1 2011
326 halaman

Petualangan Laura berlanjut..
Setelah berhari-hari melintasi Kansas, Missouri, Iowa, dan menempuh perjalanan jauh masuk ke Minnesota, perjalanan keluarga Ingalls dengan gerobak ditemani Jack, anjing yang setia,, akhirnya mereka pun berhenti.
Pa menukarkan kuda mereka Pet & Patty dengan tanah milik Pak Hanson. Selain itu Bunny sang anak keledai juga ditukarkan dengan tanaman dan sapi jantan. Lumayanlah untuk memulai kehidupan baru sebagai petani di tanah yang baru.
Mulanya Laura merasa sangat sedih, namun Pa memberi penjelasan bahwa perjalanan ke Barat lebih baik untuk si kuda daripada digunakan untuk membajak ladang.
Mereka kini memiliki rumah yang anehnya berada di dalam tanah. Ilustrasinya tampak seperti pada sampul buku di atas, di mana Laura & Mary dapat bermain asyik di atas rumah. Mereka mulai sibuk mendandani rumah, pun Laura kembali lagi asyik bermain di padang rumput maupun di lubuk yang dalam. Bertemu dengan binatang baru seperti musang, ketam batu dan pengisap darah di sungai serta sapi baru mereka yang bernama Reet namun kemudian berganti nama jadi Spot. Karena rumah mereka yang berada di dalam tanah ini sehingga pernah seekor sapi terperosok kakinya ke dalam rumah. Keasyikan lainnya ialah ketika Laura dan Mary bermain perosotan di atas tumpukan jerami yang di tumpuk Pa dengan susah payah.. 
Dan ketika Natal tiba mereka memiliki kuda sebagai hadiah Natal. Hanya saja mereka agak bingung dengan kata cuaca belalang yang disebutkan oleh orang-orang yang lebih dulu menetap di situ.
Di tepi sungai terdapat banyak rumpun pohon plum yang di petik oleh Laura dan Mary setiap hari.

Akhirnya Pa mulai membangun rumah baru dibantu oleh pak Nelson. Sungguh senang memiliki tetangga seperti itu yang selalu saling tolong- menolong. Dan tiba saatnya pula bagi Mary dan Laura untuk pergi ke sekolah. Meskipun Laura sebenarnya sangat tidak ingin ke sekolah, namun akhirnya dia bersama kakanya tetap pergi. Sayang sekali mereka tidak punya baju yang cukup bagus untuk ke sekolah dan rok mereka terlalu pendek sehingga anak-anak di sekolah mengejek mereka. Di sinilah laura bertemu dengan Nellie Oleson, gadis kota yang cantik namun sayang sekali dia jahat. Suatu kali Nellie mengadakan pesta dan mengundang Laur ke rumahnya, sayang sekali dia tidak mau sama sekali ketika laura ingin menyentuh bonekanya. Sungguh pelit... ih...
Ma pun mengatakan bahwa mereka juga boleh mengadakan pesta di desa dan boleh mengundang teman2nya. Laura melakukan aksi balas dendamnya pada Nellie dengan membiarkan Nellie di tempeli oleh pengisap darah alias lintah..

Dan suatu hari cuaca belalang yang mereka khawatirkan itupun terjadi. Belalang begitu banyak muncul dan menghabiskan tanaman mereka. Cuaca sangat panas, sehingga terpaksa Pa berangkat ke daerah Timur untuk mencari pekerjaan.
Saat-saat ini adalah saat paling menyedihkan. Untunglah pa pulang sebelum Natal dan mereka dapat merayakannya di Gereja bersama-sama.
Pa masih kembali lagi ke Timur, dan kehidupan masih berlanjut. Cuaca masih tidak menentu.. 
Musim dingin yang panjang membayangi, dan Laura menghitung kepergian Pa dengan memberi tanda di batu tulis.
Pa pun pulang, namun sekali lagi Pa pergi ke kota sebelum badai salju turun. Ketika Pa kembali, dia rupanya terhadang badai salju sehingga selama 3 hari 3 malam dia terkurung dalam salju. Untunglah Pa bisa bertahan dengan kue tiram dan gula-gula natal yang sebenarnya dibawakannya untuk anak-anaknya..
Dan malam Natal pun tiba. Mereka gembira sekali pa ada bersama-sama mereka.. Dan dengarlah lagu dari alunan biola  Pa :

"Malam sunyi dan sepi,
Bulan bersinar pucat pasi
Menerangi bukit-bukit dan lembah..."


Dalam buku ini Laura digambarkan ketika berumur 7 hingga 9 tahun. Sebenarnya saat itu termasuk dalam masa kelahiran saudara laki-laki Laura yakni Charles yang kemudian meninggal (1875-1876), namun tidak diceritakan dalam buku ini. Mungkin karena ini adalah masa-masa yang sangat sulit sehingga Laura memilih untuk tidak menceritakannya. Dalam buku ini juga tidak disebutkan nama kotanya, namun tempat mereka ini adalah sekitar 1,5 km dari Walnut Grove di sepanjang tepi Sungai Plum.

Tempat Laura bersama keluarganya ini telah dijadikan museum dan dapat dikunjungi..

Pohon plum, hmmm kayaknya enak ya...

daerah inilah yang ditengarai sebagai di tepi sungai plum

gambaran si Nellie Oleson


1 komentar:

  1. Dulu aq sampai suka mimpi punya rumah seperti ini, yang ada 'dikolong' bukit, adegan pas kaki sapi mendadak muncul dilangit-langit rumah itu rasanya gimana begitu ...

    BalasHapus