Laman

Selasa, 04 Oktober 2016

Pembunuhan ABC (The ABC Murder)






Judul                       : Pembunuhan ABC
                                 ( The ABC Murder)
Penulis                 : Agatha Christie
Alih Bahasa         : Luci Dokubani
Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan kesepuluh, Oktober 2015
344 hlm

A berarti Andover dan Mrs. Ascher dipukul sampai mati. B berarti Bexhill dan Betty Barnard mati dicekik. C berarti Churston dan Sir Carmichael Clarke ditemukan terbunuh. Di samping tubuh masing-masing korban diletakkan buku Panduan Kereta Api ABC, terbuka pada halaman yang menunjukkan tempat pembunuhan. Polisi tak berdaya. Tapi si pembunuh telah membuat kesalahan besar. Dia berani menantang Hercule Poirot untuk membuka kedoknya…


Seorang pembunuh yang cukup bernyali berani menantang Hercule Poirot. Sepertinya dia belum mengenal Poirot dengan baik. Dengan beraninya dia mengirim sebuah surat kaleng untuk Poirot. Inilah surat kaleng pertamanya :


Mr. Hercule Poirot—Anda menganggap Anda dapat memecehkan misteri-misteri yang bahkan terlalu rumit bagi polisi Inggris kami yang dungu, bukan? Mari kita buktikan, Mr. Clever Poirot, sampai di mana kepintaran Anda. Mungkin bagi Anda kasus ini tidak terlalu sulit untuk dipecahkan. Berhati-hatilah terhadap apa yang akan terjadi di Andover pada tanggal 21 bulan ini.
Hormat saya, ABC
(hlm. 17)


Seperti itulah ejekannya terhadap Poirot. Dia bahkan meremehkan polisi Inggris. Sungguh pembunuh yang sombong. Namun ternyata ancamannya benar-benar dibuktikan. Terjadilah pembunuhan mulai dari Mrs. Ascher di kota Andover yang berarti inisial “A”. Mrs. Ascher seorang wanita tua yang membuka took kecil dan menjual tembakau ditemukan tewas di tokonya sendiri. Dan lalu ada Elisabeth Barnard di Bexhill dengan inisial “B”. Dia adalah seorang gadis muda,pelayan restoran salah satu kafetaria yang tewas dicekik dengan ikat pinggangnnya sendiri—terbuat dari bahan rajutan yang kuat dan tebal. Kemudian Sir Carmichael Clarke yang kaya di kota Churston juga ditemukan tewas saat sedang berjalan-jalan setelah makan malam sesuai kebiasaannya setiap hari, yang jelas berinisial “C”. Kesemua pembunuhan itu selalu diawali dengan kedatangan surat kaleng bagi Mr. Poirot dengan label pengirim ABC. Dan juga di setiap pembunuhan ditemukan buku Panduan Kereta api ABC yang tertelungkup. Jadi semua pembunuhan mengarah ke ABC yang sepertinya terobsesi dengan abjad.

Tapi bukan Poirot namanya jika sel-sel kelabu otaknya tak bisa memecahkan misteri seperti itu. Jangan pernah meremehkan seorang Poirot. Meski dia semakin tua namun otaknya tak pernah mundur. Ditemani sahabatnya Kolonel Hastings yang sudut pandangnya dipergunakan dalam novel ini, Poirot dengan tekun mencoba mengenali karakter si pelaku yang dengan lihai bersembunyi di balik topeng ABC. 


“Betul, Hastings, kurasa sudah hampir pasti aka nada kejahatan berikutnya, yang banyak bergantung kepada la chance—kesempatan. Sampai saat ini inconnu—pembunuh yang misterius ini—masih mujur. Kali ini, bisa jadi keberuntungan berbalik memusuhinya. Namun demikian, setelah  kejahatan berikutnya, kita mempunyai kemungkinan-kemungkinanyang tak terhingga banyaknya. Kejahatannya akan benar-benar terungkap. Coba bervariasilah dengan cara, selera, kebiasaan dan sikap pemikiranmu, dan isi hatimu akan terungkap dari tingkah lakumu. Ada petunjuk-petunjuk yang membingungkan—kadang-kadang seakan ada dua otak yang sedang bekerja—namun kerangkanya akan segera jelas terbentuk, dan aku pasti tahu.” (hlm. 165)


Begitulah cara Poirot dalam menghadapi musuhnya kali ini. Dalam melakukan kejahatan, seorang penjahat biasanya akan menggunakan metode yang tetap dan ada kebiasaan-kebiasaan yang akan dilakukan secara berulang. Namun seringkali karena kesombongan atas keberhasilan telah  melakukan kejahatan berulang itulah yang kerap akan memunculkan kesalahan dan menjadi celah dari si pelaku untuk dapat ditemukan. Itulah yang ditelusuri Poirot, sekalian mencari motif dari pelaku. Dengan bantuan dari kepolisian Inggris, dan juga informasi dari rekan serta keluarga masing-masing korban yang juga membentuk semacam persatuan dalam menemukan pelaku, maka Poirot juga berusaha keras untuk menemukan pelaku bahkan mendapatkan motif kejahatannya. Harga diri Poirot dipertaruhkan untuk kasus ini. Kecemerlangan otaknya sekali lagi harus dibuktikan.

Novel-novel Agatha Christie memang selalu menyenangkan untuk dilahap oleh penggemar cerita detektif dan misteri. Ada kesenangan tersendiri dalam mencari jejak para pelaku. Diselingi usaha menebak-nebak, hingga ber-oooh saat pelaku ditemukan. Sayang sekali keasyikan saya terganggu dengan kesalahan cetakan buku yang mana ada saya menemukan dua kali lembaran halaman yang masih tergabung. Tapi tak apalah, yang jelas Poirot tetap di hati.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar