Laman

Minggu, 27 Januari 2013

Kembalinya Sang Pelaut


Judul asli : Twice Loved
Penulis : LaVyrle Spencer
Penerjemah : Endang Sulistiyowati
Penerbit : Gagas Media
Cetakan Pertama, 2012
616 hlm

Seorang pria kembali setelah lima tahun pergi dan sudah di anggap meninggal. Dan ketika kembali dia menemui bahwa istrinya sudah menikah lagi dengan sahabatnya. Di mulai dengan adegan ketika Rye si pria tersebut turun dari kapal yang membawanya pulang ke tempat tinggalnya di Nantucket, sungguh malang nasibnya karena dia baru mengetahui bahwa selama kepergiannya itu dia di anggap telah meninggal. Itu karena kapal yang ditumpanginya tenggelam, namun untung bagi dia karena saat itu dia menderita cacar sehingga sebelum kapal itu tenggelam, dia sempat diturunkan dulu di sebuah pulau. Terkena cacar tapi merupakan keuntungan. Singkat cerita meski masih terus meneruskan pekerjaannya sebagai pemburu ikan paus di kapal lain, dia akhirnya pulang namun menemui keadaan yang tak lagi sama.
Laura (istri Rye) sendiri di tengah keterkejutannya atas kepulangan Rye langsung berada dalam posisi yang sulit. Kedua pria itu adalah suaminya. Dia menikah dengan Rye baru setahun ketika Rye memutuskan untuk ikut kapal penangkap paus. Sedangkan Dan sudah mendampinginya selama 4 tahun, bahkan anak yang dilahirkan Laura yang merupakan anak Rye sudah dianggapnya sebagai anaknya sendiri. Josh sendiripun mengenal Dan sebagai ayahnya. Rumit memang.
Kisah cinta segitiga yang harus dijalani Rye, Laura beserta Dan ini cukup mengaduk-aduk emosi pembaca. Secara pribadi saya sendiri cukup simpatik terhadap tokoh Laura.Dia masih sangat mencintai Rye, karena dari kecil dia dengan Rye sudah bersama. Dan kala itu Dan hanya dianggapnya sebagai teman. Ketika Rye di anggap meninggal itulah Dan yang terus mendampingi Laura, melewati masa-masa sulit, apalagi di tengah persiapan akan melahirkan seorang bayi. Meski di buku ini Dan hanya sedikit mendapat porsi di banding Rye dan Laura, namun sudah cukup untuk membuat konflik.
Oh ya, novel ini cukup banyak adegan .. ehm..ehm-nya jadi pastikanlah untuk tidak membacanya sebelum berusia dewasa.. Hehehe...
Entah apa yang harus disalahkan, mereka bilang takdir yang menempatkan mereka dalam posisi tersebut,dan mereka tak bisa melawan.
Sekilas saaat membaca buku ini saya jadi teringat film "Cast Away". Namun bedanya cerita ini mengambil setting tahun 1837, saat di mana kaum wanita masih mengenakan gaun-gaun yang menggembung bagian bawahnya dengan rangka tulang paus. Lagi-lagi paus... :)
Perburuan ikan paus adalah mesin tenun yang menjalin ombak laut dan benang daratan untuk menciptakan sebuah permadani yang di sebut Nantucket.                           (hlm. 37)
Untuk sampulnya, cukup menarik menurut saya, Ada gambar dua buah rumpun bayberry (bener gak sih?..) dengan 2 buah cincin. Cukup eye-catching dan menggambarkan isi buku.


2 komentar:

  1. saya suka cerita tentang laut dan perburuan. butuh imajinasi dan kata-kata yang luar biasa utk menulis buku semacam ini. salam kenal Mbak? Blognya sudah sy masukan ke bloglist di blog saya. Makasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga.....
      Terima kasih sudah berkunjung. :)

      Hapus