Laman

Senin, 19 Agustus 2013

Good Wives

 
Penulis : Louisa May Alcott
Penerjemah : Rahmani Astuti
Penyunting : Moh. Sidik Nugraha
Penerbit : PT Serambi Ilmu Semesta
Cetakan I, April 2010
534 hlm
ISBN : 978-979-024-206-7

Kita akan melanjutkan mengulik kehidupan keluarga March, tiga tahun setelah kisah mereka di Little Women. Mereka kini bukan lagi gadis kecil, namun telah beranjak dewasa. Meg akhirnya menemukan cintanya yakni Pak Brooke, guru Laurie. Dia adalah pria baik hati yang rela menunggu selama tiga tahun untuk mendapatkan Meg. Meski dia bukanlah pria kaya seperti impian Meg, namun dia berusaha untuk memberikan sebuah rumah yang nyaman bagi Meg, sebuah rumah yang mereka sebut 'sarang burung merpati'. Tentunya pengalaman berumah tangga menjadi sebuah hal baru bagi Meg meski dia sudah sering membantu Bu March dan Hannah dalam mengurus rumah mereka dulu. Kita dapat membayangkan betapa kesalnya dia ketika sedang membuat agar-agar dan tak berhasil. Dan masa-masa ketika dia harus mengatur pengeluarannya dengan ketat sedangkan sahabat-sahabatnya mengenakan gaun-gaun indah setiap hari. Namun yang paling indah di antara itu adalah pengalamannya ketika menimang kedua buah hatinya, si kembar Demi dan Daisy.


Gadis kita yang berikutnya Jo, masih saja sembrono. Dia tak pernah pusing dengan gaun-gaunnya,
Jika orang lebih peduli pada pakaianku ketimbang pada diriku, aku tidak ingin bertemu mereka. (hlm. 117)
Dan ternyata kesembronoannya itu mengakibatkan hal yang besar bagi masa depannya sendiri. Karena ucapannya yang sembarangan saat bertamu ke Bibi mereka, membuat dia tidak mendapatkan kesempatan untuk bertualang ke Eropa. Amylah yang akhirnya di minta untuk menemani Bibi, dan diapun menikmati sensasi berkeliling Eropa, ke London, Liverpool,Roma,  Paris, Baden-Baden, Frankfurt, dan sejumlah kota lainnya.
Sementara itu hubungan pertemanannya dengan Laurie tetap terjalin, meskipun Laurie akhirnya mengikuti keinginan kakeknya untuk berangkat kuliah. Jo pun kembali tenggelam dalam aktivitas kegemarannya yakni menulis. Sambil bekerja di New York, dia tetap menyempatkan dirinya untuk terus berkarya.
Sama seperti di buku pertama, sepertinya Jo tetaplah yang memegang peranan dalam cerita ini. Tentang bagaimana perasaan dan kesedihannya ketika sudah tak lagi bersama dengan saudari-saudarinya. Laurie tetap menjadi teman terbaik yang gemar melontarkan candaan dan sebagainya, dan ternyata menyayangi Jo lebih dari seorang teman. Sayangnya Jo tidak dapat menerimanya karena salah paham, dan mengharapkan Laurie menemukan gadis cantik yang lebih cocok dengannya. Laurie yang patah hati, akhirnya mengadu nasib ke Eropa, dan takdir mempertemukannya dengan Amy yang santun. Si kecil Amy yang terlalu cepat dewasa menurut saya memang cocok dengan Laurie yang agak kekanak-kanakan. Dan Jo pun merana ditinggalkan.

Dan kemanakah Beth kita yang berwajah kemerahan itu? Sayang sekali, di buku ini Beth harus pergi karena penyakitnya yang terus memburuk. Kepada Jo, satu-satunya saudari yang dipercayainya, teman berbagi rahasia, disampaikannya seluruh harapan dan keinginannya. Betapa berat beban yang harus di pikul oleh Jo, menunjukkan ketegaran dan kekuatan seorang wanita muda. Dan akhirnya semua beban itu akan terlepas lewat sebuah keluarga sederhana yang penuh cinta.

Kisah ini tak kalah menariknya dengan seri yang pertama. Usaha dan perjuangan dalam menjalani hidup tak pernah mudah. Kesedihan memang acap kali terjadi, namun kegembiraan pun juga tak pernah menjauh dari hidup. Yang penting adalah bagaimana mensyukuri semua itu. 
Menurut saya buku ini layak di baca bagi anak usia 15 tahun ke atas, atau paling tidak minimal anak remaja di bangku SMU.





1 komentar:

  1. "Kisah ini tak kalah menariknya dengan seri yang pertama. Usaha dan perjuangan dalam menjalani hidup tak pernah mudah. Kesedihan memang acap kali terjadi, namun kegembiraan pun juga tak pernah menjauh dari hidup. Yang penting adalah bagaimana mensyukuri semua itu." ---> setuju dengan ungkapan ini :D

    BalasHapus