Laman

Kamis, 23 Oktober 2014

Me Times Three



Me Times Three
(Aku, Dia, dan Dia)
Penulis : Alex Witchel
Alih Bahasa : Monica Dwi Chresnayani
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Jakarta, November 2003
440 hlm

Sandra Berlin benar-benar beruntung. Itu menurutku. Bagaimana tidak!  Dia gadis yang pintar, seru, berhasil menjadi kandidat untuk menduduki posisi Editor Seni dan Hiburan sebuah majalah wanita Jolie, mempunyai tunangan yang keren keturunan langsung penjahit bendera Amerika yang pertama, punya sahabat karib yang meskipun seorang gay namun dia sahabat yang sanagt baik baginya, dan bahkan menurutku dian juga cantik dan manis (meski dia tak menyebutkannya). Nah, apalagi yang kurang? Semua tampak sempurna bagi Sandra.
Tapi tentu saja selalu ada badai di setiap kehidupan. Badai hidup Sandra dimulai ketika seorang wanita pirang, Carla Jones menghampirinya dan menyatakan dia juga adalah tunangan Bucky, yang notabene  adalah tunangan Sandra sekarang dan mereka telah berpacaran sejak jaman sekolah dulu. Meski tak percaya, akhirnya Sandra memenuhi undangan Carla ke apartemennya, mereka saling sharing, dan ternyata selain mereka adalagi tunangan yang lain. Semua lengkap dengan bukti catatan waktu yang disusun secara kronologis oleh Carla.

Ada saat-saat tertentu dalam hidup ketika kau menyadari segala sesuatu tidak akan kembali seperti dulu lagi. (hlm. 94)


Putus dari tunangannya ternyata bukan hanya satu-satunya masalah bagi Sandra. Tiba-tiba saja Paul, sobat yang sangat disayanginya itu dinyatakan menderita AIDS. Pada waktu itu (setting cerita ini tahun 1988) AIDS berarti vonis mati, dan semua orang percaya satu-satunya cara orang tertular AIDS adalah karena melakukan perbuatan buruk (hlm. 250). Kemudian adapula masalah pekerjaan dengan bos yang terus mengintervensi pekerjaannya meski itu bukanlah masalah berat baginya. Yah, semua itu membuat Sandra mengalami situasi yang buruk dalam kehidupannya. Ketika dia akhirnya memulai lagi kencan dengan pria-pria lain, tak ada yang benar-banar cocok baginya seperti Bucky. Hingga akhirnya dia bertemu Mark Lewis si kolumnis seni terkenal.

“Berilah kesempatan pada orang lain,” lanjut Paul. “Jangan Cuma Bucky saja yang kau lihat. Orang lain tidak sebrengsek dia. Tapi ingat, mereka belum tentu sempurna.Kerap kali orang melakukan hal-hal tolol yang sebenarnya tidak mereka kehendaki,” paparnya. “Bukan berarti mereka jahat. Kau harus lebih lunak menghadapinya.” (hlm. 150)

Dengan gaya bercerita yang lugas, pengalaman kehidupan Sandra ini banyak  memberi kisah tersendiri bagi saya. Saya merasa bisa tertawa bersama Sandra dan Paul, menangis bersamanya, dan ikut bersemangat ketika dia harus menghadapi deadline kerjaan. Hubungan antara Sandra dan Paul terasa lebih kuat  dan nyata dibandingkan dengan hubungan Sandra bersama Bucky. Meskipun endingnya sudah bisa ditebak, namun tak mengurangi perasaan ingin tahu saya untuk terus menyelesaikan membaca dengan cepat. Kenapa harus membaca cepat? Karena selain tulisannya yang agak kecil dan dengan jumlah halaman yang lumayan tebal, banyak kisah yang bisa diskip saat membaca. Dan seperti sinopsis di belakang buku, cinta memang tetap saja akan mampu memberi kejutan dengan cara yang tak terduga. Entah itu kejutan menyenangkan atau bukan. 
Oh ya, hal lain yang menyenangkan dalam membaca chicklit karya Alex Witchel ini adalah Sandra menyelipkan beberapa dongeng tulisannya. Lucu, dan juga menyiratkan kehidupan Sandra itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar