Laman

Selasa, 21 Oktober 2014

Man on Fire




Man on Fire
(Dibakar dendam)
Penulis : A. J. Quinnel
Alih Bahasa : B. Sendra Tanuwidjaja
Penerbit : PT Gramedia
Jakarta, 2004
496 hlm

Creasy, seorang mantan Legiun Asing alias veteran perang disewa utuk menjadi pengawal pribadi seorang gadis kecil. Hal ini  karena sang orangtua, Rika dan Ettiore khawatir dengan maraknya kasus penculikan anak di kalangan orang-orang kaya di Italy. Tapi alasan  sebenarnya lebih karena Rika tak ingin kalah gengsi  dari teman-teman sepergaulannya. Teman mereka sebagian besar sudah menggunakan jasa pengawal untuk menjaga putra-putri mereka, karena itu Rika tak ingin ketinggalan untuk memberikan pengamanan maksimal ke putri semata wayangnya, Pinta.

Namun tak disangka, Pinta ternyata kemudian ikut menjadi korban penculikan. Lebih sadis lagi, dia akhirnya dibunuh oleh sang penculik setelah sebelumnya diperkosa. Kenyataan pahit yang harus dihadapi oleh sang orangtua karena mereka membayar sang pengawal hanya dengan upah kecil. Saat kejadian, sang pengawal itu sendiri tertembak namun untungnya berhasil selamat. Ketika sadar dan mengetahui bahwa gadis kecil itu tewas, Creasy hanya terdiam, namun segera tersulut dibenaknya niat untuk membalas dendam.

Rencana Creasy adalah membalas dendam. Mereka telah membunuh orang yang berharga baginya. Ia akan membunuh sebagai balasan.
“Mata ganti mata?” tanya Guido pelan.
Creasy menggeleng perlahan-lahan dan berbicara dengan penekanan berat, “Lebih dari itu. Lebih dari mata. Setiap bagian dari mereka.”
(hlm. 204)

Meski bertema pembalasan dendam, namun novel ini tak melulu berisi adegan tembak-menembak. Diselipkan pula kisah asmara Creasy dan bahkan kisah sahabatnya Guido. Saya suka sekali dengan latar belakang desa Gozo yang disajikan sebagai tempat Creasy memulihkan diri sebelum melakukan aksi balas dendamnya. Sebuah pulau pertanian, sawah-sawahnya disusun dalam terasering hingga ke batas air. Tempat yang unik dengan masyarakat yang ramah, dan semua orang tampak sederajat baik kaya maupun miskin. Di tempat indah ini yang merupakan desa tempat tinggal mertua Guido, Creasy berlatih memulihkan diri dan bahkan menemukan persahabatan dengan warga desa. 

Oh ya, saya senang dengan cara penulis melukiskan hubungan Pinta dan Creasy yang awalnya hanya sebagai majikan dan pembantu hingga akhirnya gadis kecil itu mampu mengubah dirinya dari orang yang putus asa hingga menjadi orang yang akhirnya bersemangat kembali.

“Aku tidak pernah bisa bergaul dengan anak-anak. Bagiku anak-anak hanyalah gangguan. Lalu yang satu ini datang. Dia begitu segar. Kehidupanku sudah berakhir – semuanya sudah ditinggalkan. Lalu aku terus-menerus melihat berbagai hal melalui matanya. Baginya serba baru, seakan-akan seluruh dunia muncul begitu saja suatu pagi, hanya baginya.” (hlm. 205)
Berhasilkah Creasy membalaskan dendamnya?
Dari sampulnya menunjukkan buku ini sudah difilmkan, meski saya belum menontonnya, dan saya sendiri tak tahu apa buku dulu baru film, ataukan film dulu baru dibukukan. Yang pasti buku lama ini ceritanya cukup menghibur bagi saya. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar