Laman

Sabtu, 18 Januari 2014

Dua Belas Pasang Mata





Judul asli : Nijushi No Hitomi
Penulis : Sakae Tsuboi
Diterjemahkan dari Bahasa jepang oleh Akira Miura
Alih Bahasa : Tanti Lesmana
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Jakarta, 2013
248 hlm

Kisah tentang seorang Ibu Guru dan kedua belas muridnya sejak awal mereka masuk sekolah sampai menjadi dewasa.

Yap, benar. Sesuai dengan kalimat di sampul buku, ini adalah kisah tentang seorang Ibu Guru muda bersama dengan kedua belas muridnya. Miss Oishi namanya, dia masihlah sangat muda ketika pertama kalinya ditugaskan untuk mengajar di sebuah desa nelayan yang berada di Laut Seto. Sebuah desa kecil dengan penduduk kurang lebih 100 KK. Letaknya di ujung sebuah tanjung. Karena lumayan jauh, dia harus naik sepeda dari rumahnya ke sekolah. Saat itu bukanlah hal lazim bagi seorang wanita untuk mengendarai sepeda. Apalagi Miss Oishi ke sekolah dengan mengenakan pakaian modern yang mereka sebut pakaian Barat, membuat anak-anak bahkan masyarakat di situ terheran-heran dengan kemunculan Miss Oishi saat pertama kali. Mereka menyangka Ibu Guru yang baru akan datang dengan berjalan kaki sambil terseok-seok.
Sepeda itu dibelinya lewat seorang teman baik, anak perempuan penjual sepeda, dengan cicilan 5 bulan. Berhubung tidak memiliki pakaian yang pantas, dia mencelup kimono ibunya yang terbuat dari bahan kepar dengan warna hitam, dan menjahitnya sendiri menjadi setelan, walaupun jahitannya tidak begitu bagus. (hlm. 28)

Oh, seandainya saja masyarakat tahu hal tersebut, tentu mereka tak akan mengatainya "sok Barat".
Kisah tentang Miss Oishi ini sendiri di mulai pada 4 April 1928. Tentu saja itu adalah masa-masa perang. Hidup pastilah sangat sulit ketika itu. 
Miss Oishi ditugaskan untuk mengajar siswa kelas 1. Mengajar 12 orang murid kelas satu dengan aneka karakter tentunya merupakan tantangan berat baginya. Namun  dia berhasil menguatkan diri dan menjalankan tugasnya itu dengan penuh tanggung jawab.
Murid-muridnya terdiri dari : Kotsuru Kabe, Masuno Kagawa (Mahchan), Kotoe Katagiri, Matsue (Matchan) Kawamoto, Fujiko Kinoshita, Misako (Miisan) Nishiguchi, Sanae Yamaishi, Nita Aizawa, Isokichi (Sonki) Okada, Tadashi (Tonko) Morioka, Takeichi Takeshita, dan Kichiji (Kitchin) Tokuda.
Mengapa saya menuliskan nama-nama mereka? Soalnya bagi saya sendiri begitu sulit menghafal nama-nama Jepang yang kedengaran begitu ribet di telinga saya.  x_x

sumber

 Dan karena seperti dituliskan di atas, bahwa ini adalah kisah mereka dari awal sekolah hingga dewasa, jadilah saya melirik catatan nama-nama tersebut setiap kali nama seorang murid disebut, dan menandainya sesuai dengan kisah dan karakternya.
Hubungan antara Miss Oishi dengan murid-muridnya lama-kelamaan menjadi sangat erat. Terbukti saat Miss Oishi mengalami kecelakaan, sehingga dia tidak dapat pergi mengajar, anak-anak kelas 1 itu bersama-sama berjalan kaki ke kampung Miss Oishi di desa pohon pinus untuk mengunjunginya, padahal tak seorangpun dari mereka yang pernah ke sana sebelumnya, dan jaraknyapun lumayan jauh yakni sekitar 8 km.
Meski kemudian Miss Oishi tak lagi mengajar mereka setelah itu, karena beliau pindah ke sekolah di desa utama, namun 4 tahun kemudian mereka bertemu lagi karena anak-anak desa nelayan tersebut harus bersekolah di desa utama ketika naik kelas 5 SD.
Hal yang sama pernah saya alami sendiri. Dulu saya bersekolah di SD di sebuah pinggiran kota yang merupakan cabang dari sebuah SD di kota. Dan ketika kami naik ke kelas 6 SD, kami harus pindah ke SD utama di kota. Jadi saya bisa membayangkan bagaimana perasaan anak-anak itu ketika mereka pindah. Tentu sama dengan perasaan kami dulu, antara senang, tapi juga takut-takut dan merasa minder dengan anak kota.
Beragam kisah unik tentang masing-masing murid, kerasnya perjuangan hidup yang harus mereka alami di jaman perang itu, dan bukan hanya mereka, Miss Oishi sendiri juga harus berjuang dalam hidupnya.

"Kalau kau tidak mau menjadi satu-satunya anak yang pergi dengan memakai kimono, jangan berangkat. Kau mesti pilih, mau pergi atau mau blus.Bagaimana?"   (Ibu Sanae, hlm.142)
"Tahun depan, adik saya Toshie akan masuk ke sekolah utama. Kalau saya masuk sekolah lanjutan di sini, siapa yang akan memasak makan malam di rumah? Lain kali saya yang mesti memasak."  (Kotoe, hlm. 153)

Miss Oishi sendiri sangat tak menyukai perang. Meski tak dituliskan dalam buku ini bagaimana tentang perang itu sendiri. Namun akhirnya ketika Jepang kalah di tahun 1945, akhirnya dia bisa merasa lega. Dia tidak sedih meskipun kalah, karena itu berarti perang telah berakhir, tak ada lagi tentara yang harus mati di medan perang. Orang-orang yang masih hidup akan pulang.
Dan ketika akhirnya, ibu guru itu kembali lagi mengajar di desa tanjung, kali ini mengajar anak dari anak muridnya yang terdahulu, perasaan sentimentil dan kenangan sebagai seorang guru terhadap murid-muridnya yang terdahulu tetap muncul membuat dia dijuluki Ibu Guru Cengeng. Tentunya hal ini menunjukkan pada kita tentang bagaimana pengabdian seorang guru yang berjuang demi murid-muridnya. Memang, guru yang penuh pengabdian seperti ini layak untuk kita sebut Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.

Berkenaan dengan novel Laskar Pelangi, saya memang membaca Laskar Pelangi duluan dari pada buku ini. Namun sebelum Laskar Pelangi, saya malah membaca duluan kisah tentang Totto chan. Jadi saya malahan mengira dulu, jangan-jangan Bang Andrea mendapat ide dari Totto chan itu. Ah, tak usahlah memusingkan hal itu. Yang pasti, pesan moral dari buku ini sangat jelas.
"Ibu Guru baik sekali kepada saya selama bertahun-tahun ini. Sekarang saya mesti berpamitan." (Isokichi, hlm. 169)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar