Laman

Kamis, 26 September 2013

Labirin Rasa



Judul : Labirin Rasa
Penulis : Eka Situmorang Sir
Penerbit : Wahyumedia
Cetakan Pertama - Jakarta, 2013
394 hlm
ISBN : 979 - 795 - 753 - 5

Suka bertualang? Atau sekedar jalan-jalan? Apalagi jika kamu suka kisah-kisah romantis, maka kamu harus baca buku yang satu ini.
Bercerita tentang Kayla dan pencarian cintanya, mengantarkan kita untuk ikut menelusuri perjalanan bersama Kayla. Kayla, si gadis urakan yang apa adanya, tak pernah memperhatikan penampilan dan bahkan bermuka jerawatan. Karena nilainya yang jeblok, untuk menghibur diri, dia berlibur ke rumah eyangnya di Jogja. Namun nasib baik mempertemukannya dengan Ruben, cowok indo bertampang ganteng seperti artis.
Sejak itu, dimulailah petualangannya berkeliling Indonesia bahkan juga perjalanan cintanya pun bermula. Pembaca diajak melihat Jogja - Malang - Bali - Lombok - Makassar - Medan bahkan hingga New Zealand dengan cara berbeda. Membaca buku ini membuat saya merasa ikut terbang ke tempat-tempat tersebut, yang mana dari semua kota yang disebutkan itu, saya baru sempat menginjakkan kaki di Jogja dan Makassar. Tapi itulah beda dari buku ini, meski di ramu dalam kisah romansa cinta Kayla, namun Eka juga menonjolkan eksotisme tempat-tempat tersebut, dan saya yakin penulis sendiri pun pasti pernah menjelajahi tempat-tempat tersebut, sebagaimana kita mengenal Eka sebagai penulis blog yang gemar travelling. 



Kemudian, bukan hanya kisah romansa dan petualangan yang ditawarkan oleh buku ini. Kitapun di beri bonus dengan kutipan-kutipan manis di setiap awal bab. Selain itu diselipkan pula sedikit nuansa budaya Batak yang membuat saya tersenyum-senyum sendiri membaca logat dan juga ceritanya. Kisah Kayla dengan beberapa pria dalam pencarian cintanya ini memang ibarat labirin yang membuat kita ikut masuk untuk menikmati rasa itu hingga akhirnya menemukan akhir pencarian.
"Dan mereka sama-sama menemukan perasaan itu. Cinta yang membara di antara mereka berdua. Cinta dewasa yang teruji waktu dan persoalan. Tak akan terpisahkan." (hlm. 394)

Terlepas dari banyaknya typo yang cukup mengganggu, terutama pada beberapa kesalahan penulisan nama/ tertukar antara Ruben dan Patra tidak menyurutkan saya untuk memberi tiga bintang pada buku ini. Terus berkarya ya @Ceritaeka. :)