Halaman

Selasa, 21 Oktober 2014

Fat Tuesday

Fat Tuesday
(Menjelang Tengah Malam)
Penulis : Sandra Brown
Alih Bahasa : Rina Buntaran
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Jakarta, Januari 2000
576 hlm

Burke Basile, seorang polisi dari Divisi Narkotik dan Susila Kepolisian New Orleans (KNO) merasa kesal bukan kepalang ketika akhirnya juri pengadilan memutuskan bahwa Wayne Bardo, seorang penjahat yang ditangkapnya dinyatakan tidak bersalah dalam kasus kematian Kevin Stuart. Bebasnya Bardo tidak lepas dari campur tangan Pinkie Duvall si pengacara sekaligus sebenarnya adalah bos dari Bardo terutama dalam hal bisnis ilegalnya. Sayangnya Duvall sendiri tak pernah tersentuh oleh hukum saking pandainya dia dalam melakukan bisnis ilegalnya tersebut. 

Stuart sendiri terbunuh dalam peristiwa penggeberekan obat bius yang gagal. Stuart adalah rekan sekaligus sahabat dekat Basile. Merasa tertekan akibat peristiwa tersebut, belum lagi dipicu oleh keretakan rumah tangganya, Basile mencoba bunuh diri. Tapi sebelum menarik picu pistolnya, dia menyadari ada yang lebih patut menderita dibanding dirinya. Basile pun merencanakan pembalasan terhadap Duvall setelah sebelumnya meletakkan lencananya.

Memulai rencananya, Basile menghubungi Ruby Bouchereaux, pemilik sebuah rumah bordil. Dari Rubylah Basile akhirnya mengetahui kelemahan Duvall yakni tentang istrinya yang cantik, Remy Duvall. Remy adalah milik Duvall yang sangat berharga. Diperlakukan bak anggrek piaraannya yang disimpan dalam rumah kaca, Remypun tinggal dalam rumah Duvall yang indah dengan penjagaan ketat pengawal, bahkan kemanapun dia pergi  tak pernah lepas dari penjagaan sang pengawal.

Seperti novel suspense Sandra Brown pada umumnya, kisah ini juga diselipi dengan bumbu asmara, perihal ketertarikan Basile terhadap istri sang pengacara. Terutama ketika dia akhirnya berhasil menculik sang istri dan mengenal dia lebih jauh. Sementara itu sang pengacara tentu saja tak mau dikalahkan begitu saja.
Tidak ada yang bisa mengambil milik Pinkie Duvall begitu saja. Dan bajingan itu telah mengambil miliknya yang paling berharga. Jika ia menyentuh Remy... Jika ia berani menyentuhnya bahkan hanya dengan satu jari... Pinkie dengan nikmat membayangkan membunuh pria tak bernama itu dengan tangan kosong. (hlm. 257)
Petualangan Basile dalam menculik Remy dengan bantuan seorang pria muda yang homo cukup menegangkan. Sayangnya kisahnya terasa agak lambat dan sepertinya diakhiri dengan terburu-buru. Beberapa kejutan yang muncul di akhir cerita jadi terasa janggal. Mungkin dikarenakan mengejar klimaks cerita yang berakhir saat malam Fat Tuesday.

Man on Fire




Man on Fire
(Dibakar dendam)
Penulis : A. J. Quinnel
Alih Bahasa : B. Sendra Tanuwidjaja
Penerbit : PT Gramedia
Jakarta, 2004
496 hlm

Creasy, seorang mantan Legiun Asing alias veteran perang disewa utuk menjadi pengawal pribadi seorang gadis kecil. Hal ini  karena sang orangtua, Rika dan Ettiore khawatir dengan maraknya kasus penculikan anak di kalangan orang-orang kaya di Italy. Tapi alasan  sebenarnya lebih karena Rika tak ingin kalah gengsi  dari teman-teman sepergaulannya. Teman mereka sebagian besar sudah menggunakan jasa pengawal untuk menjaga putra-putri mereka, karena itu Rika tak ingin ketinggalan untuk memberikan pengamanan maksimal ke putri semata wayangnya, Pinta.

Kamis, 05 Juni 2014

Galila



Judul : Galila
Penulis : Jessica Huwae
Editor : Rosi L. Simamora
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Jakarta, Maret 2014
336 hlm

"Bagaimana bila kita memulai kembali - mengulang kembali semuanya secara wajar?"
Perempuan itu mengangguk ringan. Kabut kesedihan telah tersapu lenyap dari wajahnya.
"Namaku Edward Silitonga, kamu bisa memanggilku Eddie." Edide mengulurkan tangan. 
"Galila," sambutnya.
"Hanya Galila?"
"Tanpa nama belakang."

Ya,  perempuan itu bernama Galila, tanpa nama belakang atau yang lazim disebut marga. Tentu saja aneh bila seorang anak tak punya marga, apalagi yang notabene berasal dari Maluku seperti Galila. Tapi karena kepergian ayahnya yang menorehkan luka bagi dia dan ibunya, maka nama belakang itupun terhapus demi menghapus luka yang ditinggalkan. 
Pepatah mengatakan hidup bisa berubah dalam satu kedipan mata. Atau secepat membalikkan telapak tangan. Dan bahwa waktu adalah daya yang mengubah segalanya. Peluang, keberuntungan termasuk garis hidup seseorang.   (hlm. 35)

Meninggalkan masa lalu yang kelam, Galila merapat ke ibukota mencoba peruntungannya dengan mengikuti kontes menyanyi. Tak disangka dia ternyata menjadi juara dan akhirnya ikut menyelami kehidupan ibukota sebagai artis. Meski begitu dia tetap menutup rapat kisah masa lalunya itu dan bergerak menata hidupnya yang sudah tampak bersinar cemerlang di depan sana. 

Hingga kemudian pertemuannya dengan Eddie,  pria yang membuatnya jatuh cinta dan akhirnya membentuk keberaniannya untuk memperjuangkan kisah cintanya kali ini.

Diceritakan dengan alur maju mundur, dan dikemas dalam cerita kisah cinta beda suku menambah apik kisah dalam buku ini. Satu dengan suku Batak yang tentu saja disajikan beberapa hal khas Sumatera sana, sementara yang satunya adat Maluku dengan latar daerah pesisir pantai yang indah serta bau rempah-rempah seperti cengkeh yang khas. Ah, tentu saja saya agak asing dengan yang berlatar Batak, namun lain halnya kalau dengan yang berlatar Ambon. Meski bukanlah orang Ambon, namun membaca buku ini saya bisa menggambarkan tempat-tempat maupun latar yang diceritakan dengan jelas dalam pikiran saya. Saparua, Masohi, Pantai Natsepa, Pelabuhan Tulehu, ikan asar, sagu, aroma cengkeh bahkan logat ose dan beta serta hal-hal lainnya lekat dalam pikiran saya. Meski sepertinya hanya mengambil sedikit saja porsi dalam buku ini, seperti halnya kisah kembalinya Galila ke Ambon yang hanya diceritakan dalam dua bab terakhir. 

Oh ya, ketika sepenggal kisah tentang Greta, saya yang pelupa ini tiba-tiba merasa deja vu. 
"Ah, ini saya pernah baca, di mana ya?" batin saya.
Dan dengan berpikir keras, saya baru menyadari betapa bodohnya saya. Tentu saja, saya pernah membaca kisah tersebut di buku Jessica Huwae yang lain yakni di "Skenario remang- remang". Hehe... Rupanya novel ini adalah pengembangan dari salah satu cerita pendek dalam kumpulan cerita karya Jessica dalam buku tersebut. *toyor diri sendiri...

Baiklah, lupakan itu, intinya novel ini ingin menyampaikan bahwa setiap orang tentu saja punya rahasia masa lalu maupun kehidupan pribadi  yang tak perlu untuk diberitakan ke seluruh dunia, serta bagaimana setiap orang berhak untuk memperjuangkan cintanya. Oh ya, tak lupa pula saya juga salut untuk sang tokoh antagonis, ibunya Eddie yang keukeuh untuk mencarikan jodoh yang terbaik bagi anaknya sesuai dengan tuntutan adat dan tradisi mereka. Meski untuk bagian ini saya merasa agak kesinetronan-kesinetronan... (halaaah bahasa apa pula ini...?) Dan kemudian ada banyak pesan moral yang diselipkan, terutama dengan banyaknya penggalan-penggalan ayat Alkitab dalam novel ini. Dan terakhir tentang issue kerusuhan Ambon yang sempat di angkat. Ah, itu memang masa lalu yang kelam. Saya sendiri tak mampu membayangkan bagaimana hal seperti itu dulu bisa terjadi. Tapi memang hal itu benar adanya, saya sendiri kerap meringis miris saat mendengar ceritanya dari suami yang mengalami sendiri hal tersebut. Yah, mudah-mudahan kita bisa belajar lebih banyak lagi dari peristiwa tersebut agar kita tak lagi mudah terprovokasi oleh hal-hal yang remeh hingga menimbulkan bencana besar.

Oh ya, dan yang paling terkhir, saya lalu dengan penasaran bertanya : "Apa kabarnya Greta? Koh Kong? Dan bahkan Yunita?"
Penasaran.com
:)