Laman

Sabtu, 31 Agustus 2013

Buying Monday #2

Yayy... Memasuki akhir Agustus ini, akhirnya saya bisa bersorak karena berhasil mengencangkan ikat pinggang untuk tidak kalap mata lagi di toko buku. Hanya ada SATU, sekali lagi cuma SATUUU tambahan di rak buku, jadi kantong tidak seret plus terhindar dari omelan suami. :D


Buku ini beli di TB Kharisma Sorong, dan saya lupa harganya. Kebetulan lagi nyari peralatan sekolah buat si kecil dan saya tertarik pada gambar gadis di sampul beserta biolanya tentu saja. Asal comot saja sih sebenarnya, soalnya tak banyak pilihan di TB ini. Lain kalau saya ke Toko buku yang satunya, meski buku baru masih jarang dan juga mahal jauh di atas harga normal pulau Jawa, namun paling tidak bisa bawa minimal 5 buku dalam tas.. :)

Dannn, meski beli di awal Agustus, ternyata saya belum sukses menyelesaikan buku ini. 

Eh, ada sebuah pengakuan dosa juga ternyata. Pas di akhir Agustus juga, ternyata mata dan tangan saya masih saja liar berbelanja di Bukukita.com. Ada 8 buku, tapi belum ada tanda-tanda akan tiba di bulan Agustus. Jadi biarlah ke-8 buku itu masuk di Buying Monday bulan depan. :)

Yuk, ikutan menunjukkan buku-buku perolehanmu di bulan ini, segera ke blognya Mbak Aul dengan ketentuan sebagai berikut :

  1. Follow The Black in The Books melalui email atau bloglovin'.
  2. Buat post tentang buku-buku apa saja yang dibeli selama bulan itu, publish setiap hari Senin terakhir di bulan itu.
  3. Masukan link post tersebut di linky yang disediakan.
  4. Linky akan dibuka selama 3 minggu, agar bagi yang terlambat, masih bisa mengikuti meme ini.
  5. Bila ada yang memasukan link tentang book haul bulan berikutnya (bukan bulan yang ditentukan), maka link itu akan dihapus dari linky.
  6. Jangan lupa melihat-lihat book haul peserta lain! :D






Selasa, 20 Agustus 2013

The Magic Finger




 
Judul : The Magic Finger (Jari Ajaib)
Penulis : Roald Dahl
Alih Bahasa : Listiana Srisanti
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan ketiga : Januari 2010
80 hlm
ISBN : 978-979-686-757-8

Kalau kamu punya sebuah jari ajaib yang bisa melakukan hal-hal ajaib, kira-kira bagaimana perasaanmu?
Teman kita yang berusia 8 tahun dalam buku ini memiliki jari ajaib yang ternyata bisa melakukan sesuatu ketika dia sedang emosi. Mengapa pula teman kita ini menjadi emosi? Tentunya bukan karena masalah sepele. Itu karena dia sangat tidak suka melihat hewan-hewan di buru dan ditembaki. Jadi ketika sahabatnya Philip dan William bersama ayah mereka pergi menembaki rusa, itik dan hewan lainnya, teman kita ini tak tahan lagi sehingga akhirnya dia mengeluarkan kekuatan tersembunyinya itu. Si jari ajaib beraksi...!!! Apa yang terjadi? Penasaran? Kamu akan menemukannya di buku ini. Buku kecil ini akan membuka imajinasimu dan pastinya kau akan mendapat pelajaran penting darinya. Bagaimana agar kau menyayangi hewan-hewan dan tidak pantas untuk memburu mereka, pun juga bahwa kau tak boleh seenaknya mengatakan seseorang itu bodoh.

Namun perlu kamu pahami juga bahwa kamu tak perlu menjadi seperti teman kita di buku ini. Jika seseorang membuatmu marah dan emosi, tak perlulah kamu melampiaskan emosimu itu sehingga membuat orang itu malah mengalami hal buruk. Tapi buku ini juga akan mengajarimu tentang konsekuensi yang akan kau dapatkan jika berbuat salah.

Baiklah, kalian para mahkluk-mahkluk kecil yang mungil layak membaca buku ini, ataupun di bacakan oleh orangtua kalian di masa kanak-kanak kalian. Selamat berimajinasi...



Back To Children Classic's Literature [ Update Post ]



Back To Children Classic's Literature ini adalah sebuah proyek membaca khusus bacaan anak selama Bulan Juli kemarin yang di host oleh Mbak Maria Hobby Buku dan Mbak Bzee. Namun saya si Miss Lelet, baru sempat membaca Master Postnya pada awal Agustus ini. Dan jadilah saya ngebut menyelesaikan beberapa bacaan klasik yang ternyata sudah merupakan timbunan yang sengaja saya simpan untuk bacaan Juli, dan betapa bodohnya saya, ternyata saya lupa membacanya di Bulan Juli. Hikss...

Baiklah, lupakan saja itu.
Bercerita tentang bacaaan klasik, buku yang saya baca waktu kecil dulu yang ternyata tergolong bacaan klasik adalah serial Rumah Kecil karya Laura Ingalls. Saat itu saya kurang lebih masih berusia SD, namun saya lupa di mana mendapatkan bacaan ini. Mungkin saja dari Perpustakaan Sekolah, namun beberapa lanjutannya seingat saya waktu itu saya pinjam dari seorang teman yang memiliki banyak sekali koleksi buku di rumahnya, warisan kakak-kakaknya dan juga kepunyaan ayahnya (tentu saja membuat saya iri, betah bermain di rumahnya seharian demi menikmati surga buku itu).

Ketika membaca serial tersebut, angan saya melayang dan membayangkan saya adalah Laura, si gadis kecil yang lincah, suka bertualang, dan kakak perempuan saya  yang kebetulan umurnya tidak begitu jauh dari saya adalah Mary. Sama seperti dalam buku, kami tentu saja sangat akrab namun tetap saja tak jarang sering pula berkelahi. Kakak saya memang persis seperti Mary, gadis sopan yang selalu menurut orang tua, pendiam dan tak banyak tingkah. Sedangkan saya lebih mirip Laura yang suka kebebasan, selalu ingin tahu, dan boleh di kata tak terlalu peduli dengan penampilan. Seperti Mary dan Laura belajar dari satu buku, di mana yang satu membuka halaman depan dan yang seorang membaca di baliknya, demikian pula kami berdua. Saat membaca sebuah buku, kami biasanya membaca bersama-sama. Namun karena kecepatan membaca saya lebih cepat dari si kakak (uhuuk-uhuuuk), maka tentu saja saya akan lebih duluan mencapai halaman berikutnya dan membuat kami akan membaca sambil memegangi beberapa halaman di tengah. Tentu saja repot jika membaca sambil memiringkan kepala. Entah kenapa, waktu itu kami tak membiarkan saja salah seorang membaca duluan. Mungkin saja karena masing-masing tak sabar untuk mengetahui isi buku tersebut. 

Betapa kuat keinginan saya untuk menjadi seperti Laura, bertualang melintasi padang rumput, tinggal di tepi sungai, hidup dalam gerobak, dan menemukan hal-hal baru. Mungkin itu pula yang menginspirasi saya sehingga akhirnya ketika menyelesaikan kuliah, saya ikut merantau memberanikan diri meninggalkan keluarga untuk tinggal jauh dari rumah.

Kini, jika membaca ulang kisah Laura Ingalls ini, ternyata masih saja saya terinspirasi oleh dia. Ketika Laura telah tinggal jauh dari keluarga, dia harus mendengar berita kematian kakaknya, Mary. Dan hal yang sama terjadi pada saya, di mana saya kehilangan kakak saya itu ketika sudah jauh dari keluarga. Hal yang sangat berat buat saya kala itu, namun saya menemukan penghiburan dengan membaca serial ini untuk mengenang beliau. Masih seperti Laura yang memiliki seorang putri kecil, kini sayapun telah dianugrahi seorang gadis kecil dan menjadi tanggung jawab saya untuk membesarkan dan mendidiknya.
Ah, bacaan masa kanak-kanak memang selalu saja mendapat tempat di hati. Menjadi kenangan yang tak akan pernah terlupakan, dan tentu saja akan lebih indah jika nanti saya bisa mewariskannya untuk putri kecil saya. :)

Kembali ke even membaca bersama bacaan klasik anak, maka proyek membaca ngebut saya adalah sebagai berikut :

1. Little Women - Louisa May Alcott, sudah saya baca separuh di Bulan Juli, namun sempat terlupakan dan akhirnya di kebut lagi di awal Agustus.
2. Good Wives - Louisa May Alcott
3. Little Men - reread
4. Di Tepi Sungai Plum - Laura Ingalls Wilder, reread; merupakan buku pertama yang dulu saya baca dari seri Rumah Kecil dan kemudian berlanjut dengan seri lainnya meski tak berurutan.
5. The Magic Finger - Roald Dahl
6. The Enermous Crocodile - Roald Dahl


Senin, 19 Agustus 2013

Good Wives

 
Penulis : Louisa May Alcott
Penerjemah : Rahmani Astuti
Penyunting : Moh. Sidik Nugraha
Penerbit : PT Serambi Ilmu Semesta
Cetakan I, April 2010
534 hlm
ISBN : 978-979-024-206-7

Kita akan melanjutkan mengulik kehidupan keluarga March, tiga tahun setelah kisah mereka di Little Women. Mereka kini bukan lagi gadis kecil, namun telah beranjak dewasa. Meg akhirnya menemukan cintanya yakni Pak Brooke, guru Laurie. Dia adalah pria baik hati yang rela menunggu selama tiga tahun untuk mendapatkan Meg. Meski dia bukanlah pria kaya seperti impian Meg, namun dia berusaha untuk memberikan sebuah rumah yang nyaman bagi Meg, sebuah rumah yang mereka sebut 'sarang burung merpati'. Tentunya pengalaman berumah tangga menjadi sebuah hal baru bagi Meg meski dia sudah sering membantu Bu March dan Hannah dalam mengurus rumah mereka dulu. Kita dapat membayangkan betapa kesalnya dia ketika sedang membuat agar-agar dan tak berhasil. Dan masa-masa ketika dia harus mengatur pengeluarannya dengan ketat sedangkan sahabat-sahabatnya mengenakan gaun-gaun indah setiap hari. Namun yang paling indah di antara itu adalah pengalamannya ketika menimang kedua buah hatinya, si kembar Demi dan Daisy.

Little Women




Penulis : Louisa May Alcott
Penerjemah : Rahmani Astuti
Penyunting : Muh. Sidik Nugraha
Penerbit : PT Serambi Ilmu Semesta
Cetakan I : Juli 2009
489 hlm
ISBN : 978-979-024-165-7

Buku ini akan bercerita kepada kita tentang empat orang gadis  bersaudara yang begitu sederhana, namun dalam kesederhanaannya itu begitu banyak hal yang terjadi. Namanya juga kakak beradik, tentu saja kadang terjadi pertengkaran, kesedihan, dan kegembiraan dalam hidup mereka.
Marilah kita berkenalan dulu dengan ke empat tokoh kita.
Margaret, atau akrab di sapa Meg, adalah yang paling tua berusia 16 tahun. Rambutnya berwarna coklat, gadis manis yang bercita-cita ingin menikah dengan dengan pria muda yang kaya yang akan membawanya ke dalam istana di mana dia dapat mengatur rumah tangganya.
Sementara itu gadis kedua adalah Josephine namun dia lebih senang di panggil Jo. Dia adalah gadis tomboy, usianya hanya setahun di bawah Meg. Bertubuh tinggi dengan rambut panjang yang indah, kegemarannya adalah terhadap buku-buku dan itu berdampak terhadap kepiawaiannya dalam menulis.
Setelah Jo ada Elisabeth yang tentunya di panggil dengan sebutan Beth. Di antara ke empat gadis itu, dialah yang paling lembut hatinya, tidak pernah pusing dengan masa depannya, dan dia suka sekali memainkan piano.
Yang terakhir adalah si kecil Amy. Dia memiliki sopan santun yang tak perlu lagi kita pertanyakan. Kegemarannya adalah membuat sketsa, dan karena dia yang paling kecil maka hanya dia yang masih pergi ke sekolah dan itu membuatnya merasa sangat terbeban.

Selasa, 06 Agustus 2013

Sapporo no Niji




Judul : Sapporo no Niji ( Pelangi Cinta di Langit Sapporo)
Penulis : Hapsari Hanggarini
Penerbit : GagasMedia
Cetakan I, 2012
226 hlm

Cinta memang aneh. Tiba-tiba saja ada, tiba-tiba saja muncul tak terduga, lalu menjerat hati dalam jalinan perasaan yang halus dan sulit diuraikan.

Seperti dengan penggalan kalimat di atas, buku ini mengisahkan tentang kisah cinta yang aneh, muncul dengan cepat, serta menjerat hati dari empat tokoh novelnya. 
Lala, seorang gadis asal Indonesia melanjutkan kuliahnya ke Sapporo tepatnya di Hokkaido University. Selain berniat mendapatkan ilmu, dia pula punya sebuah misi yakni mendapatkan pacar Nihon jin yang bermata sipit dan berkulit putih. Dan impiannya ini dengan mudah akan terwujud begitu dia bertemu dengan Nihon jin pertama yang diajaknya bicara saat pertama kali menginjakkan kaki di Sapporo. Lala bertemu dengan Hiroshi Yamada, dan mencoba menanyakan toilet. Sayangnya si Nihon jin bergegas pergi dengan pandangan aneh. 
Untunglah Lala bertemu lagi dengannya karena ternyata mereka satu kampus, bahkan apartemennya berseberangan. Singkat cerita mereka mulai akrab dan saat pertama kali makan bersama, si Nihon jin mengajak temannya Alvin yang juga orang Indonesia untuk menemani mereka. Lala yang sudah terlanjur tersihir dengan perhatian si Hiroshi bahkan tak pernah menggubris Alvin. Meski Alvin sudah cukup berusaha mendapatkan perhatiannya, namun minat Lala hanya pada Hisroshi. Kemudian muncul pula Daigo, Nihon jin lain yang turut merebut perhatian Lala, dan malah membuat Hiroshi marah. 
Kisah cinta yang cukup unik, dan diakhiri pula dengan manis. Apalagi dengan latar belakang kota Sapporo dan beberapa penjelasan mengenai kehidupan di Jepang sana serta beberapa penggalan kosa kata Jepang membuat saya serasa ikutan terbang ke Sapporo. Belum lagi penjelasan tentang berbagai makanan Jepang jadi bikin ngiler. Hehehe..
Namun ada beberapa hal yang agak mengganjal. Pada awal membaca, saya langsung merasa gregetan menemukan typo yang cukup mengganggu di hlm 12, yang mana seharusnya Lala mengirim email laporan ke Fira sahabatnya di Indonesia, bukannya Sita. Kemudian sepertinya terlalu banyak kebetulan. Lala yang adiknya Aldo, temennya Alvin yang di bilang bertetangga tapi tetangga jauh, dan anehnya Alvin bahkan tak kenal dengan keluarga Aldo. Hiroshi, si Nihon jin yang ketemu di bandara ternyata tetangga sebelah apartemen. Munculnya Daigo yang ternyata berkenaan dengan masa lalu Hiroshi, serta masih banyak lagi. 
Saya juga agak sebel dengan Lala yang hanya terus mengharapkan Hiroshi dan mati-matian dengan cita-citanya memiliki pacar Jepang sementara Alvin juga tak kurang memberi dia perhatian yang sama.Lala terkesan begitu plin plan dan herannya yang diceritakan cuma kisah cintanya. Jadi kasian sama si Alvin.
Tapi, bagaimanapun, membaca buku ini cukup terasa Jepangnya sehingga sedikit menutupi kekecewaan dengan cerita yang disajikan. Dan saya suka dengan covernya yang manis. :)


Jumat, 02 Agustus 2013

Buying Monday #1






Setelah membaca meme dari Mbak Aul di blognya tentang Buying Monday ini, maka saya jadi ikut-ikutan mengaku dosa dengan memamerkan menunjukkan timbunan baru di bulan ini. Barangkali ini bagus juga bagi saya agar segera sadar diri dan tidak gelap mata begitu melihat buku. Hehehe...