Laman

Jumat, 31 Agustus 2012

# 20 Of Mice and Men



Pengarang          : John Steinbeck
Penerjemah       : Isma B. Koesalamwardi
Penerbit              : Ufuk Press
Cetakan I ; Desember 2009
238 hlm

# Salah satu novel klasik terbaik sepanjang masa #
Demikianlah tagline di halaman depan novel ini yang membuat saya tertarik untuk membacanya. Sebagai salah satu pilihan bacaan dari “ 1001 books you must read before you die” untuk postingan bersama BBI akhir bulan ini berada pada nomor urut 608  pada bagian buku tahun 1900-an.
George Milton dan Lennie Small, dua orang pemuda yang bersahabat bersama-sama bermimpi untuk memiliki sebuah tanah pertanian sendiri suatu kali kelak. Sebuah tempat di mana mereka bisa memelihara beberapa ternak mereka, meberi makan rumput alfalfa pada kelinci dan lain sebagainya.
George Milton, bertubuh kecil dan sigap dengan mata tajam, berwajah gelap. Sedangkan Lennie kebalikannya, dia dengan badan yang lebih besar, bentuk wajahnya tidak beraturan, matanya besar pucat dengan bahu yang lebar menurun. Dia berjalan dengan menyeret kaki , lengan tergantung lemas di sisi tubuhnya. Boleh di bilang Lennie agak sedikit dungu. Dia terlalu polos tapi tenaganya sangat besar, sehingga kadang dia di sebut bayi bertubuh besar. Lennie karena kepolosannya selalu mendapat masalah. Oleh karena itu George-lah yang selalu membantunya keluar dari setiap masalah.
Seperti diceritakan pada awal buku bahwa mereka berdua tengah berjalan menuju Soledad dari Weed. Mereka hendak mencari pekerjaan baru di Soledad. Mereka kabur dari Weed karena Lennie membuat masalah lagi di sana. Lennie senang membelai, dia bahkan membawa tikus mati dalam sakunya agar bisa terus dibelainya. Seorang nyonya yang dia lupa namanya (padahal itu adalah Bibi Clara-nya) memberinya tikus waktu kecil dulu namun selalu dibunuhnya. Lennie mengatakan bahwa tikus itu menggigitnya jadi dia hanya mencubitnya sedikit namun tikus itu segera mati. Karena kegemarannya mengelus / membelai sesuatu yang lembut maka ketika itu dia melihat gaun seorang wanita dan dia membelainya hingga si wanita menjerit-jerit membuat Lennie gugup dan malah semakin mempererat cengkramannya di gaun wanita itu. Si wanita mengatakan bahwa Lennie hendak memperkosanya sehingga membuat Lennie dan George melarikan diri dari kota tersebut karena kejaran penduduk setempat.
Singkat cerita mereka akhirnya diterima bekerja di sebuah peternakan. Di peternakan mereka berkenalan dengan orang-orang yang bekerja di situ dan George selalu mewanti-wanti Lennie agar jangan pernah membuat masalah. George juga menasihati Lennie agar jangan pernah mendekati Curley, si putra bos yang sombong dan juga istri Curley yang genit itu. Namun karena dipukuli oleh Curley, Lenniepun tidak bisa menahan diri untuk menggenggam tinju Curley  mengakibatkan tangan Curley remuk.
Masalah terbesar yang kemudian di buat Lennie adalah dengan tidak sengaja dia membunuh istri Curley. Semua itu tetap karena kesenangannya membelai itu.
Mau tak mau George harus membuat keputusan besar mengenai Lennie. Keputusan yang sangat membuat saya sendiri sedih saat membaca buku ini… Kasihan si Lennie… 

Tentang Pengarang :
John Steinbeck lahir tahun 1902 di Salinas, California di lembah perkebunan yang subur. Latar lembah dan pantai inilah yang banyak menjadi tempat latar belakang beberapa fiksi terbaiknya. Tahun 1919 mendaftar di Stanford tapi tidak pernah lulus. Dia kemudian menjadi wartawan, juga menjadi buruh.
Beberapa karyanya antara lain :
The Pastures of Heaven (1932)
To a God Unknown (1933)
The Long Valley (1938)
Tortilla Flat (1935)
The Grapes of Wrath (1939)
Dan lain sebagainya.
Ia meninggal tahun 1968 setelah sebelumnya meraih penghargaan Nobel di tahun 1962.

Mengapa buku ini dikategorikan masuk dalam daftar 1001  buku yang harus di baca sebelum mati kemungkinan adalah karena kisah ini mengangkat persoalan manusia-manusia yang terbuang. Diceritakan secara sederhana sehingga membuat kita tak mampu berhenti untuk terus membacanya. Pramoedya Ananta Toer pernah menerjemahkannya dan dipentaskan oleh Teater Amoeba pada Desember 2011 lalu.

Rabu, 15 Agustus 2012

#19 Kesetiaan dalam Kematian (Loyalty in Death)


Pengarang : J. D. Robb
Alih Bahasa : Eliyanti Jacob Saleh
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Jakarta, Maret 2010
536 hlm

Pernah membayangkan seperti apa kehidupan di tahun 2050an?
Novel ini dengan setting tahun tersebut memberikan gambaran tentang kehidupan manusia pada jaman yang akan datang itu dengan benda2 bernama link, keping cakram, droid, dan sebagainya.
Adalah seorang polisi wanita bernama Letnan Eve Dallas yang di pilih oleh sebuah kelompok untuk menjadi musuh mereka. Kelompok yang menamakan diri Cassandra itu menulis pesan kepada Dallas lewat sebuah keping cakram berisikan ancaman penghancuran fasilitas umum jika tuntutan mereka tidak dipenuhi.
Dallas bekerja sama dengan timnya mencoba untuk menaklukkan si penjahat serta mencari tahu sasaran kelompook misterius itu berikutnya.

Beberapa kali Dallas gagal dengan usahanya sementara tuntutan dari para penjahat semakin besar.
Belum lagi di tambah dengan masalah lain berupa beberapa kasus pembunuhan yang harus ditanganinya benar-benar menguras pikiran dan tanggung jawabnya. Pembunuhan pertama di awal cerita tentang seorang pria yang di bunuh pacarnya dengan menggunakan bor rupanya memiliki hubungan erat dengan kasus-kasus selanjutnya. Tidak lama kemudian saudara pria tersebut ikut mati juga setelah di bunuh oleh seorang tukang kayu yang bekerja di rumahnya. Tukang kayu yang juga adalah adik dari asisten Dallas, Peabody ; semakin memecah konsentrasi Dallas. Namun akhirnya dengan keahliannya, serta dalam hal ini yang paling berperan adalah suaminya Roarke, Dallas berhasil mengaitkan setiap hal dan menemukan sarang si penjahat.

Pesan-pesan yang diterima Dallas selalu diawali dengan kata-kata :
Kami Cassandra.
Kami adalah dewa keadilan.
Kami setia. 

Dengan kalimat itulah Dallas bisa menebak-nebak hubungan antara kelompok Cassandra ini dengan sebuah kelompok serupa yang muncul 30 tahun sebelumnya yang bernama Apollo.
Apollo, kelompok pimpinan Rowan yang menentang pemerintahan yang korup, namun bertindak dengan semena-mena sesuai dengan keinginan mereka sendiri dalam usaha menentang pemerintah itu. Dengan kata lain mereka main hakim sendiri. Rowan sendiri akhirnya dinyatakan tewas beserta 2 anaknya pada saat di buru di rumahnya. Dengan demikian kelompok tersebut dinyatakan sudah berhasil ditangani, meskipun seorang tangan kanan Rowan dinyatakan menghilang karena tidak pernah ditemukan.

Buku ini adalah bacaan pertama saya untuk karya J. D. Robb. Kelihatannya hampir mirip-mirip dengan Sandra Brown, yakni novel-novel bertajuk suspense...
Penggunaan benda-benda seperti keping cakram kemungkinan mengacu pada keping CD saat ini, kemudian link adalah telepon alias handphone untuk link saku. Sedangkan droid adalah robot yang di bentuk menyerupai manusia yang sangat bermanfaat, digunakan terutama untuk menjadi pelayan.