Laman

Sabtu, 18 Februari 2012

#2 Little Men


Little Men

Nat, Dan, serta dua belas anak lainnya bersekolah di Plumfield. Sekolah khusus untuk anak-anak laki-laki asuhan Bapak dan Ibu Bhaer. Sekolah yang sangat mengasyikkan karena tidak banyak peraturan. Justru di sekolah ini terdapat begitu banyak permainan.
Bayangkan saja, seminggu sekali mereka diizinkan perang bantal di kamar. Mereka memiliki kebun sendiri untuk ditanami, boleh memiliki binatang peliharaan, bahkan memiliki museum untuk menyimpan harta karun.
Namun, namanya juga anak-anak, mereka tetap saja berbuat nakal, ceroboh, dan senang sekali buat onar. Untunglah, kesabaran Bapak dan Ibu Bhaer seperti tanpa batas. Perlahan-lahan mereka mengubah anak-anak menjadi seperti yang mereka harapkan, yaitu anak-anak yang memiliki kejujuran, keberanian, percaya pada Tuhan dan diri sendiri.

----------------------------------

Jumat, 17 Februari 2012

# 1 Totto Chan

Ini adalah blog baru saya,, karena mau di isi dengan kumpulan buku-buku bacaan saya maka saya pun jadi tertarik mengumpulkan buku-buku yang saya sudah baca di sini. Nah, karena ini adalah buku favorit saya, maka inilah yang menjadi Number One...



Si kecil Totto Chan di pecat dari sekolah lamanya hingga akhirnya bergabung di sebuah sekolah kereta Tomoe Gakuen. Judulnya Gadis Cilik di Jendela pasti karena Totto Chan yang doyan sekali berdiri di jendela demi menyaksikan anak2 sekolah lain yang lewat, juga menyaksikan pemusik jalanan yang lewat dan juga berbicara kepada seekor burung (ini salah satu hal yang membuatnya di keluarkan dari sekolah pertamanya padahal baru kelas I SD)
Perjalanan di sekolah kereta yang begitu mengasyikkan bagi Totto Chan juga buat teman-teman barunya, karena jenis pendidikannya yang berbeda dengan sekolah-sekolah umum lainnya. Mereka boleh memulai pelajaran mana saja yang di sukai, duduk di bangku mana saja, makan siang dengan sesuatu yang dari laut dan sesuatu dari gunung. Sungguh menyenangkan, pelajaran berenang di kolam renang mereka, berkemah bersama, bahkan mempelajari euritmik, dan bernyanyi bersama yang kebanyakan diciptakan oleh kepala sekolah mereka.
Tetsuko Kuroyanagi menceritakan semuanya dengan cara yang sangat saya sukai sehingga saya yakin jika anak2 yang membaca pasti akan mengerti, pun tidak begitu kekanak-kanakan bagi orang dewasa. Yang paling saya senangi adalah kisah persahabatan Totto Chan dengan Yasuaki, anak yang cacat karena polio.. Sangat menyedihkan ketika akhirnya si Yasuaki meninggal. Dan cerita di tutup dengan sekolah yang terbakar karena perang saat itu. Untunglah Kuroyanagi menyelipkan kisah tentang semua teman-teman sekolahnya di akhir buku sehingga saya tidak perlu mengira-ngira apa yang terjadi pada mereka.
Sungguh buku yang sangat bagus menurut saya, jadi buat kamu yang belum baca,, segera bacalah buku ini kawan. (Oh ya, saat saya membaca buku Laskar Pelangi beberapa tahun kemuadian, saya jadi berfikir kok sepintas kisahnya mirip ya?... Menurutmu..???? )